Berita Trenggalek

Area Sawah Mulai Terdampak Kekeringan, 11 Desa di Trenggalek Minta Suplai Air Bersih

Dinas terkait sudah mengusahakan adanya bantuan pompa. Namun, ketika sumber air tidak ada, masalah kekeringan tak bisa dibendung

Area Sawah Mulai Terdampak Kekeringan, 11 Desa di Trenggalek Minta Suplai Air Bersih
SURYA.co.id/Aflahul Abidin
Lahan pertanian di Kabupaten Trenggalek. 

SURYA.co.id | TRENGGALEK – Area persawahan di Kabupaten Trenggalek mulai terdampak kekeringan. Setidaknya, 5,7 hektare (ha) lahan di Kecamatan Pogalan dan Panggul terancam gagal panen akibat kekeringan beberapa bulan terakhir.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek Didik Susanto mengatakan, data tersebut berdasarkan pengajuan klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Apabila merujuk data tahun lalu, jumlah lahan pertanian bisa terus bertambah seiring musim kemarau.

Selama 2018, 156,15 ha lahan telah mengklaim asuransi tani. Lahan itu tersebar di beberapa kecamatan, antara lain Pogalan, Gandusari, Durenan dan Panggul.

“Tahun lalu yang terluas di Desa Ngadisoko, Kecamatan Durenan. Di sana ada 15 ha,” kata Didik, Kamis (25/7/2019).

Dinas Pertanian dan Pangan menjadikan program AUTP sebagai salah satu solusi agar para petani tak merugi ketika gagal panen, salah satunya akibat kekeringan. Sayangnya, luasan lahan yang sudah diasuransikan masih minim.

Dari total lahan 12.028 ha lahan pertanian padi di Trenggalek, baru 1.048,3 ha yang terasuransikan pada musim tanam kedua tahun ini.

Menurut Didik, banyaknya pasien yang belum tahu adanya program AUTP dan manfaatnya membuat cakupan program itu belum luas.

“Padahal manfaatnya lumayan. Petani yang gagal panen akibat kekeringan, banjir dan hama seluas 75 persen dari lahan yang diasuransikan bakal mendapat Rp 6 juta per hektare,” ungkap dia.

Untuk membayar premi pun, para petani mendapat subsidi. Mereka hanya perlu membayar Rp 36.000 per ha dari nilai premi Rp 180.000. Sisanya ditanggung oleh pemerintah.

Solusi untuk mengantisipasi gagal panen saat kekeringan cukup sulit. Dinas terkait, kata dia, sudah mengusahakan adanya bantuan pompa. Namun, ketika sumber air tidak ada, masalah kekeringan tak bisa dibendung.

“Solusinya sebenarnya sumber air harus dijaga. Untuk ini, kami harus berkoordinasi dengan instansi lain,” ujarnya.

Sementara itu, Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek mencatat, sebelas desa di Kabupaten Trenggalek sudah mengajukan permintaan air bersih per akhir awal pekan ini.

Desa-desa itu, yakni Desa Glebeng, Karang Tengah, Besuki, Terbis, Banjar, Ngrecak, di Kecamatan Panggul; Desa Gading di Kecamatan Tugu, Desa Mlinjon dan Suruh di Kecamatan Suruh; Desa Jatiprahu dan Ngentrong di Kecamatan Karangan.

“Itu yang sudah mengajukan permintaan pengiriman ke kami,” kata Kepala BPBD Kabupaten Trenggalek Joko Rusianto.

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved