Berita Pamekasan

Jelang 17-an, Penjual Bendera di Pamekasan mulai Marak, Alasan Pedagang Antusias Berjualan di Madura

Menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia, pedagang bendera, umbul-umbul dan pernak-perniknya, kini mulai marak di Pamekasan.

SURYAOnline/muchsin
Aparat Satlantas Polres Pamekasan saat memborong bendera panjang, di Jl Trunojoyo, Pamekasan. 

SURYA.co.id |  PAMEKASAN – Menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia, pedagang bendera, umbul-umbul dan pernak-perniknya, kini mulai marak di Pamekasan. Sejumlah pedagang terlihat menggelar lapak dagangannya di beberapa ruas jalan protocol.

Pantauan Tribunjatim.com, Rabu (24/7/2019), para pedagang musiman itu menggelar lapak dagangannya berupa pernak-pernik 17 Agustus,  di antaranya di kawasan monumen Arek Lancor, di kawasan Jl Jokotole, Jl Kabupaten, di sepanjang Jl Trunojoyo, kanan kiri jalan.

Para pedagang yang mayoritas dari Bandung itu, menjajakan barang dagangannya berupa bendera ukuran kecil hingga ukuran besar dengan harga antara Rp 20.000 hingga Rp 180.000. Untuk bendera panjang yang dipasang di pinggir atap perkantoran dengan panjang antra 5 meter hingga 10 meter, dengan gambar garuda, harganya berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 250.000.

Sementara untuk bendera jenis umbul-umbul dengan ukuran tinggi antara 3 – 4 meter, harganya dari Rp 100.000 hingga Rp 150.000. Namun untuk saat ini, warga yang membeli sebatas bendera kecil dan bendera panjang bergambar garuda.

Sebagian besar pembeli bendera panjang jenis rumbay itu, karyawan perkantoran. Mereka membeli dengan jumlah antara 3 hingga 5 lembar ukuran panjang. “Kami diminta pimpinan untuk membeli bendera ukuran panjang yang akan dipajang di pinggir atas kantor kami,” kata salah seorang karyawan Pemkab Pamekasn.

Diakui, jika tiap tahun ia membeli bendera panjang, baik yang bergambar burung garuda, maupun bendera yang berkerut. Ia membeli lagi bendera, karena bendera sebelumnya warnanya sudah kusam, lantaran dibiarkan terpajang hingga lebih dari dua bulan, terpapar sinar matahari.

Salah seorang pedagang bendera, Rustandi (48), yang menggelar lapak dagangannya  di Jl Trunojoyo, mengatakan, ia sudah 10 tahun berjualan bendera. Tapi dari delapan tahun itu, enam tahun berjualan di Madura. Yakni di Sumenep selama tiga tahun dan di Pamekasan ini sudah berjalan 3 tahun.

Diakui, ia datang ke Pamekasan 24 orang temannya, sesama pedagang bendera dari Bandung, sejak tiga hari lalu. Namun mereka menyebar di sudut kota dan beberapa kawasan di Pamekasan dan lokasi kosnya juga menyebar berdekatan dengan lokasi dagangannya yang digelar.

Dikatakan, ia memilih Madura, khususnya Pamekasan sebagai tempat untuk berjualan bendera, karena di Pamekasan ini pangsa pasar bendera cukup bagus, dibanding daerah lain, yang katanya di daerah lain sudah banyak saingan dan tempat menggelar dagangannya berdekatan.

“Sebelumnya saya sudah berjualan di beberapa kota di Jawa, namun yang memberikan harapan untuk berdagang bendera ini di Sumenep dan Pamekasan. Sebab semua barang yang dibawa langsung habis terjual. Saya jualan di tempat ini, setiap harinya mulai pukul 07.30 hingga pukul 20.00,” kata Rustandi.

Dikatakan, jika tahun-tahun sebelumnya ia membawa dagangan sebanyak 6 karung, tapi kali ini 10 karung bendera. Ia optimis semua barangnya ini laku terjual, karena tahun lalu dalam waktu dua minggu, sebelum 17 Agustus, barangnya sudah habis.

Sedang Asep (50), yang menggelar dagangannya di kawasan Taman Bunga, depan eks stasiun Kereta Api (KA) Jl Trunoyo, Kelurahan Patemon, mengatakan, ia juga dari Bandung dan berjualan bendera ke Pamekasan ini mengajak adiknya.

Asep mengatakan, barang dagangannya yang dibawa tidak sebanyak teman-temannya. Jika dalam waktu satu minggu atau 10 hari sudah habis, ia langsung pulang ke Bandung dan tidak minta kiriman lagi. Baginya itu sudah cukup memetik keuntungan untuk kebutuhan rumah tangga di rumahnya.

Menurut Asep, biaya transportasi pulang pergi dari Bandung ke Pamekasan sebesar Rp 1 juta, belum termasuk biaya kontrak rumah selama berjualan.

“Selain jualan bendera, di hari-hari biasa saya berdagang kain dan baju keliling kampung. Alhamdulillah, bagi saya itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saya bersama istri dan anak,” papar Asep.

Penulis: Muchsin
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved