Berita Surabaya

Hadiri Konferda V PDIP Jatim, Gubernur Khofifah Cerita Soal Kedekatan Bung Karno dengan Kiai NU

Gubernur Khofifah Indar Parawansa menghadiri Konferda V PDIP Provinsi Jawa Timur 2019 dan berpesan untuk dekat dengan kiai NU seperti Bung Karno

Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: irwan sy
fatimatuz zahro/surya
Gubernur Khofifah Indar Parawansa hadir langsung dalam Konferda V PDIP Provinsi Jawa Timur 2019 yang dilaksanakan di Hotel Wyndham, Surabaya, Rabu (24/7/2019) siang. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Gubernur Khofifah Indar Parawansa menghadiri Konferda V PDIP Provinsi Jawa Timur 2019 yang dilaksanakan di Hotel Wyndham, Surabaya, Rabu (24/7/2019) siang. Konferda tersebut juga dihadiri oleh Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat, Sri Rahayu, sejumlah kepala daerah dari PDIP dan juga Ketua, Sekretaris dan Bendahara DPC PDIP Se Jawa Timur.

Di Konferda itu, Gubernur Khofifah menyampaikan sejumlah pesan penguatan termasuk menjaga hubungan baik dengan para ulama. Ia mengingatkan pada pengurus PDIP bahwa kedekatan PDIP dengan ulama sudah dicontohkan sejak 1948 oleh Presiden Soekarno.

"Saat itu kondisi bangsa dengan tidak kondusif. Elit politik bangsa menganggap mereka yang tidak sepemikiran dengan satu sama lain adalah salah," kata Gubernur Khofifah yang siang itu mengenakan batik bernuansa merah dan juga berkerudung merah tersebut.

Dalam kondisi bangsa yang kalut itu, lanjut Khofifiah, Bung Karno menghampiri kiai NU di pedesaan Kabupaten Jombang, Kiai Wahab Chasbullah.

"Bung Karno meminta saran bagaimana agar suasana di negeri ini bisa kembali adem ayem pada Kiai Wahab. Beliau itu kiai NU di pedesaan di Jombang," sambungnya.

Dari pembicaraan itu, Kiai Wahab Chasbullah menyarankan agar Bung Karno untuk menggelar silaturahmi antarelit politik.

Karena dengan silaturahmi akan ada pertemuan pikiran, pertemuan langkah.

Tapi, Bung Karno menolak jika forum itu dinamakan dengan silaturahmi.

Sebab silaturahmi sudah sering dilakukan.

Bung Karno meminta ada istilah baru.

"Maka Kiai Wahab menjawab bahwa sejatinya berprasangka buruk saja dosa. Dosa itu haram, maka yang haram itu harus dihalalkan dengan silaturahmi. Maka dipakailah istilah halalbihalal," cerita Khofifah.

Halalbihalal hingga saat ini terus dilaksanakan dan biasanya dilakukan di bulan Syawal.

Hal tersebut dilestarikan bahkan di seluruh Indonesia.

Menurut Khofifah, apa yang dilakukan oleh Bung Karno ini harus dititiskan dan diwariskan pada seluruh kader PDIP, yakni menjaga komunikasi dengan para kiai NU.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved