Ratusan Pelajar Berperilaku Seksual Menyimpang Suka Sesama Jenis, Khofifah Minta Segera Ditelusuri

Sebagaimana dirilis oleh KPA, ada ratusan pelajar di Tulungagung yang memiliki perilaku menyimpang suka sesama lelaki.

Ratusan Pelajar Berperilaku Seksual Menyimpang Suka Sesama Jenis, Khofifah Minta Segera Ditelusuri
Isitmewa
Ilustrasi penyuka sesama jenis 

SURYA.co.id | SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bergerak cepat menyikapi temuan KPA terkait ratusan pelajar di Tulungagung yang memiliki perilaku seksual menyimpang dan menjadi penyuka sesama jenis.

Sebagaimana dirilis oleh KPA Tulungagung, ada ratusan pelajar di Tulungagung yang memiliki perilaku menyimpang suka sesama lelaki.

Atas temuan itu, Khofifah segera melakukan koordinasi dengan sejumlah tokoh di Tulungagung dan mengkroscek kebenarannya. Dan ternyata memang para tokoh termasuk Pemda Tulungan sudah mendengar kasak kusuk adanya komunitas maupun kelompok penyuka sesama jenis.

"Saya minta mereka turun. Karena semalam begitu saya dapat beritanya, langsung saya komunikasikan dengan beberapa tokoh di sana. Ternyata mereka menyampaikan mereka sudah mendengar ada indikasi begitu," kata Khofifah, Selasa (23/7/2019).

Tidak hanya itu, Khofifah juga sudah menyampaikan pada Pelakasana Tugas Kepala Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk melakukan tindak lanjut terkait kasus yang terjadi di Tulungagung.

Secara khusus mantan Menteri Sosial ini meminta agar kelompok-kelompok yang terindikasi memiliki perilaku seksual menyimpang agar dilakukan tindak lanjut dengan pihak terkait. Terutama pada mereka yang masih pelajar dan usia sekolah.

"Saya minta plt Dindik koordinasi dengan kepala sekolah rumpun yang terindikasi, jadi memang harus koordinasi semua lini. Apalagi yang terkomunikasikan dalam asosiasi," tegasnya.

Dengan tegas Khofifah menyebutkan bahwa aturan hubungan lawan jenis sudah ada di negara Indonesia. Dan hubungan antar sesama jenis tidak dibolehkan dalam undang-undang di negara kita.

Wanita yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU ini, aturan tersebut sebagaimana termaktub dalam Undang Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Dalam Pasal 1 disebutkan tegas bahwa Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

"Bagi kami tegas referensinya adalah UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Kalau disebut perkawinan yang sah itu harus dalam ikatan pernikahan, pernikahan yang sah itu ya antara laki-laki dan perempuan," tandas mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid ini.

Selain itu, ia juga mewanti pada Dindik Jatim agar melakukan bimbingan dan pendampingn konseling pada siswa. Namun yang lebih penting tetap menurutnya adalah peran keluarga.

Orang tua menurutnya harus mampu mengidentifikasi jika ada kemungkinan adanya indikasi yang tidak beres atau tidak berseiring dengan berbagai tertib sosial, maka orang tua harus turun tangan.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved