Breaking News:

Liputan Khusus

News Analysis : Harga Tiket Pesawat Mahal, Solusinya Beri Subsidi Pada Maskapai

Ketika maskapai menaikkan harga tiket, dampaknya justru mengurangi pembelian. Dan itu tentu akan berdampak pada industri pariwisata nasional.

surya.co.id/istimewa
Gerbang Masuk ke Terminal 1 (T1) Bandara Internasional Juanda, Sabtu (1/6/2019). 

News Analysis
Dr Werner R Murhadi CSA
Ketua Program Magister Manajemen Ubaya

SURYA.co.id | SURABAYA - Perkembangan industri maskapai dimulai pada awal 2000-an.
Ketika itu ada perubahan perizinan, di mana perizinan pendirian maskapai lebih murah.
Sehingga waktu itu, beberapa perusahaan berlomba-lomba membuat maskapai baru.

Namun satu persatu pada akhirnya gulung tikar, karena tak mampu bersaing.

Pada saat yang sama, ketika dibukanya izin maskapai, ada kebutuhan masyarakat yang meningkat untuk melakukan perjalanan melalui transportasi udara.

Termasuk pemerintah daerah meminta kalau bisa di daerahnya itu terdapat penerbangan langsung.

Kemudian yang terjadi maskapai-maskapai membeli pesawat dalam jumlah besar.

Mereka lupa, pesawat itu dibeli dalam bentuk mata uang US dollar.

Sementara semua maskapai pendapatannya dalam bentuk rupiah.

Padahal, ketika pesawat mendarat, landing, atau parking itu juga menggunakan US dollar semua.

Sementara masyarakat ingin harga tiketnya yang rendah (murah).

Namun, lama-kelamaan itu semua tidak akan bisa menutupi biaya pengeluaran.

Karena bahan bakar avtur naik, biaya kurs semula Rp 9.000 di 2000-an sekarang menjadi Rp 14.000 itu memberatkan maskapai.

Sehingga mau tidak mau maskapai menaikkan harganya supaya bisa bertahan.

Masalahnya ketika maskapai menaikkan harga tiket, dampaknya justru mengurangi pembelian.

Dan itu tentu akan berdampak pada industri pariwisata nasional.

Terus semestinya apa yang harus kita lakukan bersama?

Di satu sisi masyarakat tetap membeli tiket, pemerintah jangan menekan maskapai untuk menurunkan harga.

Karena jika harganya tidak kompetitif lama-lama maskapai akan tutup.

Selain itu, pemerintah membuat solusi, maskapai asing dipersilakan masuk, sebenarnya itu juga ada masalah.

Maskapai asing masuk tentu mereka tak akan mau masuk di daerah pedalaman penerbangan perintis.

Maskapai asing hanya mau mengambil di rute-rute gemuk saja.

Di sisi lain hal seperti ini akan mampu menurunkan harga tiket di rute gemuk. Namun tidak di rute yang sifatnya sepi.

Ini menjadi konsen bersama, baik maskapai agar tidak bangkrut, pemerintah, dan masyarakat agar tak dirugikan. Itu jadi pemikiran bersama.

Terkait masalah duopoli (persaingan Garuda dan Lion Air) kalau mereka menaikkan harga seenaknya, tentu masyarakat tidak akan membeli.

Kalau masyarakat tidak membeli, yang rugi mereka.

Sehingga bagi saya pribadi bukan masalah duopoli tetapi cost structure-nya yang tidak memungkinkan pada saat ini.

Mau tidak mau mereka harus membuka tarif batas atas dan batas bawah. Karena kita kalau berprinsip pada duopoli pasti sama-sama rugi.

Saat ini kita pergi ke bandara, saat ini di sana relatif jauh lebih sepi dibanding dulu.

Apa mereka mau bertahan seperti itu? Kalau bagi saya duopoli mungkin ada faktornya tapi kecil.

Kondisi berat yang saat ini dihadapi maskapai adalah soal cost structure-nya.

Hampir semua maskapai yang beroperasi di Indonesia termasuk maskapai asing dalam posisi rugi.

Semua tidak ada yang untung. Karena emang cost structure-nya berat.

Cost Structure itu kita melihat beban pembelian pesawat, biaya parking, dan bahan bakar avtur. Itu memang sekarang besar sekali.

Maka solusinya pemerintah daerah setempat harus mengeluarkan subsidi juga terkait dengan biaya parking supaya murah.

Jika tidak, maskapai tak akan mau terbang di rute sepi.

Dampaknya pemerintah daerah akan rugi masyarakat di daerah juga turut merugi.

Sebab, ini masalah kompleks sekali bukan masalah doupoli saja.

Sementara itu, sebenarnya regulasi masalah tarif batas atas dan batas bawah sudah ada.
Justru, tarif batas atas itu relatif tidak pernah berubah sejak beberapa tahun terakhir. Sehingga itu menjadi masalah bagi maskapai.

Mau dibuat batas atas dan bawah diturunkan lagi, beban maskapai tetap besar karena ini bicara tentang nilai tukar rupiah yang lemah terhadap US dollar, pesawat yang dipesan atau dibeli juga sampai puluhan.

Mungkin seharusnya yang dilakukan maskapai yakni mengurangi pesanan pesawat kemudian mengefisiensikan jalur-jalur yang sebelumnya menggunakan dua pesawat.

Untuk efisiensi sebaiknya menggunakan satu pesawat dan dengan jam terbang di tengah-tengah (tak terlalu pagi atau malam).

Karena seperti kita ketahui setiap 30 menit atau 40 menit pasti ada pesawat milik maskapai di bandara.

Mengapa mereka tidak menggunakan pesawat lebih besar sekali angkut. Itu dalam rangka memperbaiki cost structurenya.

Di sisi lain, kita berharap kurs rupiah agar selalu terjaga, jangan sampai mencapai angka Rp 14.500 itu bakal menambah beban maskapai. Karena kewajiban pembayaran mereka dalam US dollar.

Kedua, harga avtur harus tetap terjaga. Kalau misalnya tetap terjadi, maskapai akan kesulitan dan dampaknya akan merambah ke industri pariwisata.

Padahal kita menggalakkan industri pariwisata 10 Destinasi Wisata Bali Baru. Tentu tidak ada orang yang mau ke sana.

Saya keluar negeri saja mungkin lebih murah ketimbang penerbangan dalam negeri. Karena di luar negeri mengangkut penumpang dengan pesawat besar.

Pesawat bisa mengangkut 300 orang. Maskapai bisa jual dengan harga 10 persen di bawah rata-rata yang lain pakai harga normal, maskapai tersebut tetap bisa balik modal.

Dalam kondisi ini sebaiknya daerah wisata bergandengan tangan.

Kalau di negeri China, restoran toko-toko semua bergandengan tangan mereka menyubsidi maskapai.

Hal itu dilakukan supaya maskapai mendatangkan orang ke sana. Sehingga hotel laku dan bisnis warga juga laku. (Mohammad Romadoni/Danendra)

Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved