Liputan Khusus

News Analysis : Harga Tiket Pesawat Mahal, Solusinya Beri Subsidi Pada Maskapai

Ketika maskapai menaikkan harga tiket, dampaknya justru mengurangi pembelian. Dan itu tentu akan berdampak pada industri pariwisata nasional.

surya.co.id/istimewa
Gerbang Masuk ke Terminal 1 (T1) Bandara Internasional Juanda, Sabtu (1/6/2019). 

Hampir semua maskapai yang beroperasi di Indonesia termasuk maskapai asing dalam posisi rugi.

Semua tidak ada yang untung. Karena emang cost structure-nya berat.

Cost Structure itu kita melihat beban pembelian pesawat, biaya parking, dan bahan bakar avtur. Itu memang sekarang besar sekali.

Maka solusinya pemerintah daerah setempat harus mengeluarkan subsidi juga terkait dengan biaya parking supaya murah.

Jika tidak, maskapai tak akan mau terbang di rute sepi.

Dampaknya pemerintah daerah akan rugi masyarakat di daerah juga turut merugi.

Sebab, ini masalah kompleks sekali bukan masalah doupoli saja.

Sementara itu, sebenarnya regulasi masalah tarif batas atas dan batas bawah sudah ada.
Justru, tarif batas atas itu relatif tidak pernah berubah sejak beberapa tahun terakhir. Sehingga itu menjadi masalah bagi maskapai.

Mau dibuat batas atas dan bawah diturunkan lagi, beban maskapai tetap besar karena ini bicara tentang nilai tukar rupiah yang lemah terhadap US dollar, pesawat yang dipesan atau dibeli juga sampai puluhan.

Mungkin seharusnya yang dilakukan maskapai yakni mengurangi pesanan pesawat kemudian mengefisiensikan jalur-jalur yang sebelumnya menggunakan dua pesawat.

Untuk efisiensi sebaiknya menggunakan satu pesawat dan dengan jam terbang di tengah-tengah (tak terlalu pagi atau malam).

Karena seperti kita ketahui setiap 30 menit atau 40 menit pasti ada pesawat milik maskapai di bandara.

Mengapa mereka tidak menggunakan pesawat lebih besar sekali angkut. Itu dalam rangka memperbaiki cost structurenya.

Di sisi lain, kita berharap kurs rupiah agar selalu terjaga, jangan sampai mencapai angka Rp 14.500 itu bakal menambah beban maskapai. Karena kewajiban pembayaran mereka dalam US dollar.

Kedua, harga avtur harus tetap terjaga. Kalau misalnya tetap terjadi, maskapai akan kesulitan dan dampaknya akan merambah ke industri pariwisata.

Padahal kita menggalakkan industri pariwisata 10 Destinasi Wisata Bali Baru. Tentu tidak ada orang yang mau ke sana.

Saya keluar negeri saja mungkin lebih murah ketimbang penerbangan dalam negeri. Karena di luar negeri mengangkut penumpang dengan pesawat besar.

Pesawat bisa mengangkut 300 orang. Maskapai bisa jual dengan harga 10 persen di bawah rata-rata yang lain pakai harga normal, maskapai tersebut tetap bisa balik modal.

Dalam kondisi ini sebaiknya daerah wisata bergandengan tangan.

Kalau di negeri China, restoran toko-toko semua bergandengan tangan mereka menyubsidi maskapai.

Hal itu dilakukan supaya maskapai mendatangkan orang ke sana. Sehingga hotel laku dan bisnis warga juga laku. (Mohammad Romadoni/Danendra)

Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved