Berita Trenggalek

Awal Agustus Panen Cabai Rawit di Tiga Daerah, Emil Dardak Berharap Bisa Stabilkan Harga

Panen cabai akan berlangsung di tiga daerah di Jawa Timur awal Agustus nanti. Yakni di Tulungagung, Blitar, dan Nganjuk.

Awal Agustus Panen Cabai Rawit di Tiga Daerah, Emil Dardak Berharap Bisa Stabilkan Harga
surya.co.id/aflahul abidin
Wagub Jatim Emil Dardak berbincang dengan pedagang cabai di Pasar Basah relokasi Pasar Pon, Kabupaten Trenggalek, Minggu (21/7/2019) 

SURYA.co.id | TRENGGALEK – Harga cabai rawit naik drastis dalam dua pekan terakhir.

Di Pasar Basah tempat relokasi Pasar Pon Kabupaten Trenggalek, cabai rawit harganya Rp 72 per kilogram (kg).

Ketika awal Lebaran lalu, harganya cuma Rp 24.000 per kg.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, panen cabai akan berlangsung di tiga daerah di Jawa Timur awal Agustus nanti. Yakni di Tulungagung, Blitar, dan Nganjuk.

Ia berharap, panen itu akan menstabilkan harga cabai di pasar-pasar di Jatim.

“Ada perilaku yang berubah dari petani cabai sehingga sekarang berkebalikan,” kata Emil, ketika mengunjungi Pasar Basah relokasi Pasar Pon, Kabupaten Trenggalek, Minggu (21/9/2019).

Melonjaknya harga cabai saat ini, kata Emil, disebabkan waktu penanaman yang berubah.

Para petani cabai menanam terlalu dini sehingga ketika panen suplai berlebih.

Ini yang menyebabkan harga cabai rawit sempat anjlok menjelang Lebaran.
Dampak sebaliknya, ketika saat ini panen belum berlangsung, harga cabai melambung.

“Banyak contoh kejadiannya, misalnya ketika petani bandeng ingin cepat-cepat menanam padi, tapi panennya tidak sesuai sehingga bandeng harganya anjlok,” imbuhnya.

Menurut Emil, naiknya harga cabai bukan karena persoalan musim. Ini terbukti dari harga cabai ditingkat petani yang masih stabil. Jika diakibatkan musim, masalah harga bakal terjadi di dua sisi: petani dan pedagang.

“Ini petaninya masih oke,” imbuhnya.

Pemprov juga akan memanfaatkan Sistem Informasi Ketersediaan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbako) milik Dinas Perdagangan Provinsi Jatim.
Lewat sistem itu, ketersediaan dan kebutuhan bahan pokok di berbagai daerah akan terkoneksi.

“Ini yang mau kami coba terapkan untuk bisa mengantisipasi (harga melonjak),” tambah Emil. (aflahul abidin)

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved