Berita Gresik

VIDEO - Pengoplos Elpiji Bersubsidi Ditangkap Polisi, Tersangka Mengaku Hasilnya Ditabung Buat Nikah

Ide mengoplos elpiji bersubsidi 3 kg tersebut diakui tersangka dari hasil menonton di YouTube, kemudian dipraktikkan

SURYA.co.id | GRESIK - Slamet Hariyanto (36), warga Benowo Surabaya, ditangkap jajaran Polres Gresik akibat mengoplos elpiji bersubsidi 3 KG, ke LPG 12 non subsidi.  Dari bisnis itu, tersangka berhasil meraup keuntungan jutaan dalam setiap bulan.

Ungkap kasus tersebut berasal dari informasi masyarakat bahwa di rumah kontrakan di Kecamatan Menganti, bahwa terjadi dugaan pengoplosan elpiji bersubsidi.

Kemudian, dilakukan penyelidikan anggota Satreskrim Polres Gresik unit tindak pidana ekonomi. Hasilnya, berhasil menangkap tersangka Slamet Hariyanto.

Dari penangkapan tersangka Slamet Hariyanto berhasil mengamankan barang bukti berupa 22 tabung elpiji 3 Kg bersubsidi dalam keadaan isi, 10 tabung elpiji 3 Kg kosong, 8 tabung elpiji 12 Kg non subsidi sudah ada isinya, 8 tabung elpiji 12 Kg kosong, 2 buah pipa besi modifikasi dan sebuah motor Honda Beat nopol L 2117 UD.

Kapolres Gresik AKBP Wahyu S Bintoro dengan didampingi Kasat Reskrim AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo mengatakan, bahwa tindak kejahatan mengoplos elpiji bersubsidi dilakukan tersangka sudah berlangsung sekitar 4 bulan. Kegiatan itu dilakukan di rumah kontrakan.

Ide mengoplos elpiji bersubsidi 3 kg tersebut diakui tersangka dari hasil menonton di YouTube, kemudian dipraktikkan dengan cara membeli elpiji bersubsidi di toko perancangan.

"Dari menonton YouTube tersebut langsung dipraktikkan menggunakan pipa besi yang sudah dimodifikasi," kata Wahyu, Kamis (18/7/2019).

Setelah berhasil mengoplos elpiji bersubsidi 3 Kg, kemudian dijual kembali ke masyarakat menggunakan motor.

Atas perbuatannya, dikenakan pasal 55 dan atau pasal 53 huruf d Undang-undang RI Nomor 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi.

"Pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda maksimal Rp 60 Miliar," kata alumni Akpol 1998.

Dari perbuatannya itu, tersangka Slamet mengaku bahwa dari hasil penjualan elpiji oplosan tersebut setiap hari bisa meraup keuntungan sebanyak Rp 200.000 sehingga setiap bulan bisa mencapai Rp 6 Juta.

"Hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari dan digunakan nambah modal. Sisanya ditabung untuk biaya nikah," katanya.

Sementara, tersangka mengakui bahwa nekat mengoplos elpiji bersubsidi 3 Kg untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sebab, tidak ada pekerjaan alias menganggur.

"Tidak bekerja. Sehingga usaha ini. Hasilnya untuk keperluan sehari-hari dan tambah modal. Dan untuk nikah secepatnya," kata Slamet.

Penulis: Sugiyono
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved