Berita Surabaya

Penjelasan Sosiolog Prof Dr Bagong Suyanto terkait Kasus Threesome Libatkan Keluarga

Pakar sosiolog Unair, Prof. Dr. Bagong Suyanto mengatakan, maraknya kasus threesome lantaran pergeseran konsep dan makna sebagian orang.

Penjelasan Sosiolog Prof Dr Bagong Suyanto terkait Kasus Threesome Libatkan Keluarga
SURYAOnline/nur ika anisa
Pakar sosiolog Unair, Prof. Dr. Bagong Suyanto. 

Surya.co.id | SURABAYA - Beberapa kasus suami jual istri sah, terjadi di beberapa kota di Jawa Timur. Tak tanggung-tanggung, dalam seminggu tiga kasus suami jual istri untuk layanan seksual di tiga kota yaitu Tuban, Pasuruan, dan Surabaya dibongkar polisi.

Tiga kasus tersebut sama-sama dilakukan untuk layanan seksual, dua di antaranya berdalih untuk fantasi threesome.

Lalu mengapa threesome menjadi fantasi pria khususnya yang tengah berkeluarga?

Pakar sosiolog Unair, Prof. Dr. Bagong Suyanto mengatakan, maraknya kasus threesome lantaran adanya pergeseran konsep dan makna sebagian orang terhadap keluarga.

"Ada desaklarisasi, kalau dulu orang berkeluarga menempuh satu ritus dan kehidupan baru yang disaklarkan, bahkan virginitas," kata Bagong Suyanto, Selasa (16/7/2019)

Menurutnya, memudarnya pandangan saklarisasi perkawinan dikuatkan dengan maraknya threesome melibatkan suami-istri.

"Yang namanya hubungan suami-istri tidak lagi sakral bahkan dianggap biasa, perubahan gaya hidup yang semakin permisif. Yang mungkin keblabasan adalah sepasang suami istri tertentu yang mengkomersialisasikan hubungan," kata Bagong.

Komersialisasi hubungan suami-istri yang dimaksudnya, adalah, adanya istrumen yang justru digunakan untuk menambah pemasukan keluarga.

"Tidak sekedar desaklarisasi tapi hubungan suami-istri dianggap sebagai modal menggaet pemasukan. Ini juga bukan hal yang baru," kata dia.

Beragam pemicu, disebutkan Bagong berbeda-beda namun yang kerap dianggap oleh pelaku realistis yaitu permasalahan ekonomi.

"Saya kira Jawa Timur bukan menjadi tren, dugaan saya di lain kota juga ada. Kalau penutupan lokasilisasi juga tidak berpengaruh, aktifitas seksual komersial juga masih berjalan tidak hanya layanan istri orang tetapi mungkin masuk apartemen banyak, masuk spa masih banyak. Penutupan lokalisasi itu hanya penyelesaian politis yang tidak dapat menyelesaikan persoalan prostitusi," kata dia.

Penulis: Nur Ika Anisa
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved