Berita Surabaya

Mahasiswa Untag Inovasikan Pembangkit Listrik Berdasarkan Musim, Kebisingan dan Tekanan

Inovasi pembangkit listrik Raja Singa ini merupakan pembangkit listrik dengan metode fuzzy logic berbasis android.

Mahasiswa Untag Inovasikan Pembangkit Listrik Berdasarkan Musim, Kebisingan dan Tekanan
SURYA.co.id/Habibur Rohman
PEMBANGKIT LISTRIK - Mahasiswa Untag Khusnul Maulana Ibrahim, Muhammad Fadhil Savaldo Putra dan Badriyatus Sholihah menunjukkan kinerja pembangkit listrik karya mereka di roof top Gedung Q Untag Surabaya, Senin (15/7/2019). Alat yang diberi nama 'Raja Singa' ini memanfaatkan panas matahari dan juga tenaga air hujan dengan memanfaatkan "Piezoelektrik, juga dengan bising serta hentakan kaki. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Energi alternatif selalu menjadi tren inovasi yang hangat diteliti mahasiswa. Termasuk yang dilakukan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang menghasilkan inovasi energi terbarukan yang disebut Raja Singa.

Yakni pembangkit listrik tenaga surya, hujan, bising dan tekanan.

Ide ini dihasilkan oleh Khusnul Maulana Ibrahim mahasiswa Teknik Elektro, Fadil mahasiswa Teknik Informatika dan Badriatus mahasiswa Ekonomi Akuntansi hingga mendapat pendanaan dari Kemenristekdikti.

Khusnul menjelaskan inovasi Raja Singa ini merupakan pembangkit listrik dengan metode fuzzy logic berbasis android.

Alat ini mengkombinasikan tenaga surya, hujan, bising dan tekanan dengan piezoeelektrik yang menghasilkan tegangan yang menjadi inputan untuk mencharge baterai.

"Keempat sumber tersebut dihasilkan dari panas matahari, curah hujan, tekanan dari hentakan jalan kaki dan frekuensi suara dari kebisingan keramaian,"paparnya.

Meskipun dikembangkan dari empat sumber yang berbeda, alat ini nantinya mengkonversi energi dengan tegangan paling tinggi.

Energi yang didapat dari panel surya pada pukul 11.00 hingga 14.00 WIB dihasilkan sekitar 9-21 voltase.

Tenaga hujan menghasilkan energi sebesar 3,2 voltase, sementara frekuensi bising dapat menghasilkan 0.05 voltase dan tekanan hentakan jalan kaki sebesar-besarnya 7,8 voltase.

"Kami terinspirasi dari upaya mencari alternatif sumber energi fosil. Sehingga ia dan tim menciptakan sumber energi yang dapat dihasilkan dari kegiatan sehari-hari ataupun memanfaatkan musim,” ungkapnya.

Selain memanfaatkan musim, alat ini bisa diaplikasikan di taman-taman kota, karena di sana adalah pusat keramaian dan kebisingan dan banyak pejalan kaki.

Menurut Dosen Pembimbing Teknik Elektro, Puji Slamet inovasi buatan mahasiswanya cukup unik, namun inovasi ini masih kurang. Utamanya dalam hal penyempurnaan metode optimalisasi penyerapan sumber energi.

"Ini bisa jadi generasi pertama yang dikembangkan lagi,"pungkasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved