Berita Bangkalan

Di Desa Dlemmer Bangkalan, KKN Mahasiswa UTM Luruskan Mindset Klasik Tentang Perempuan

Ia berharap, sarasehan tersebut mampu memberikan wawasan yang lebih baik. Terutama para ibu dan remaja putri di desa tersebut.

Di Desa Dlemmer Bangkalan, KKN Mahasiswa UTM Luruskan Mindset Klasik Tentang Perempuan
surya.co.id/ahmad faisol
Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 09 Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar Sosialisasi bertemakan Membangun Desa yang Sehat Lingkungannya dan Bahagia Warganya di Taman Posyandu Dusun Gumantar, Desa Dlemmer, Jumat (12/7/2019). 

SURYA.co.id | BANGKALAN - Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 09 Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengumpulkan sejumlah warga di Taman Posyandu Dusun Gumantar, Desa Dlemmer, Jumat (12/7/2019).

Saresahan bertemakan Membangun Desa yang Sehat Lingkungannya dan Bahagia Warganya itu dihadiri para para ibu PKK, ibu muda, remaja berusia 17 - 20 tahun, karang taruna hingga tokoh masyarakat.

Sebagai pemateri, mahasiswa mengundang Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak (KBP3A), Dinas Kesehatan, dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangkalan.

Dalam kesempatan tersebut, Dinas KBP3A Bangkalan memaparkan tentang KB dan Pendewasaan Usia Perkawinan, Dinas Kesehatan menjelaskan mengenai penyakit stunting, dan Dinas Lingkungan Hidup memaparkan Praktik Pengolaan Sampah Plastik dan Evaluasi Pengolahan Sampah.

Penanggung jawab sosialisasi, Zilda Khilmatus mengungkapkan, pemilihan tema Pendewasaan Usia Perkawinan didasarkan pada hasil penelusuran terkait melekatnya mindset pernikahan di usia muda.

"Hasil dari bincang-bincang dengan warga sekitar, mindset seorang perempuan dianggap tidak terlalu penting untuk berpendidikan tinggi," ungkap mahasiswa Fakultas Hukum semester V ini kepada SURYA.co.id.

Alasan itulah yang lantas diusung Mahasiswa KKN 09 untuk memberikan pemahaman sekaligus meluruskan ungkapan klasik bahwa perempuan hanya berfungsi di tiga aktivitas; dapur, kasur, dan sumur.

"Rata-rata lulus SMA langsung dinikahkan. Apalagi keadaan ekonomi keluarga kurang mencukupi. Segera menikahkan anaknya agar tak jadi tanggungan orang tua," paparnya.

Berdasarkan data pernikahan berdasarkan usia istri yang dihimpun mahasiswa dari BP KB Kecamatan Kwanyar di 16 desa periode 1 Januari - 31 Desember 2018, pernikahan di usia 20 - 25 tahun tercatat sebanyak 400 perempuan atau 66,2 persen.

Pernikahan di usia 20 - 25 tahun menjadi yang tertinggi dibandingkan usia di bawah 20 tahun (1,2 persen), usia 26 - 30 tahun (32,6 persen), dan di atas usia 30 tahun (0 persen).

Ia berharap, sarasehan tersebut mampu memberikan wawasan yang lebih baik. Terutama para ibu dan remaja putri di desa tersebut.

Apalagi, lanjutnya, di pernikahan usia muda ada kemungkinan besar terkena kanker serviks (kanker yang tumbuh pada sel-sel di leher rahim).

"Ada juga resiko stunting. Salah satu penyebabnya karena ibu yang belum paham memberi gizi saat hamil. Rata-rata terjadi pada ibu yang masih berusia muda," pungkasnya.

Sekadar diketahui, stunting merupakan sebuah kondisi dimana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya.

Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir yang biasanya tampak setelah anak berusia 2 tahun.

Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved