Berita Madiun

Bagong, Buaya Berumur 103 Tahun di Madiun Umbul Square Akhirnya Mati, Ini Penjelasan Petugas

Bagong, seekor buaya muara berumur lebih dari satu abad yang dipelihara oleh Lembaga Konservasi, Madiun Umbul Square mati.

Bagong, Buaya Berumur 103 Tahun di Madiun Umbul Square Akhirnya Mati, Ini Penjelasan Petugas
surya/rahadian bagus
Salah satu buaya muara berumur 103 tahun bernama Bagong di Madiun Umbul Square baru saja mati. 

SURYA.co.id | MADIUN - Seekor buaya muara berumur lebih dari satu abad yang dipelihara oleh Lembaga Konservasi, Madiun Umbul Square mati. Buaya buta bernama Bagong itu memiliki berat sekitar 200 kg dan panjang sekitar 5 meter.

Direktur Madiun Umbul Square, Afri Handoko, mengatakan berdasarkan hasil visum yang dilakukan dokter hewan, buaya muara itu mati dengan kondisi luka-luka di bagian mulut dan hidung. Bagong mati dalam usia yang mencapai 103 tahun.

Bagong merupakan buaya tertua dan hewan tertua yang dirawat di Lembaga Konservasi Umbul Square. Buaya jantan ini ditemukan mati pada Sabtu (6/7/2019) pagi di kandangnya saat akan diberi makan oleh petugas atau keeper yang biasa merawatnya.

Warga Kedungkandang Kota Malang Heboh, Rumahnya Kejatuhan Seekor Buaya

Afri menuturkan, kematian Bagong bukan karena sakit, namun karena faktor usia.

Dia mengatakan, biasanya umur buaya muara hanya mencapai sekitar 80 hingga 90 tahun.

"Kami merawatnya dengan baik. Kami juga memberikan nutrisi yang baik setiap hari kepada Bagong. Bagong ini mati karena memang usianya sudah sangat tua," katanya kepada wartawan, di Madiun Umbul Square, Rabu (10/7/2019).

Sedangkan kondisi Bagong yang penuh luka, kata Afri, dikarenakan Bagong memang mengalami kebutaan dan kerap menabrak tembok hingga menyebabkan mulutnya terluka.

"Bagong itu buta sejak 2013. Jadi Bagong ini kalau makan harus didekatkan ke mulutnya," ujarnya.

Ketika ditanya mengenai asal-usul buaya tersebut, Afri mengaku juga tidak tahu.

Sebab, Bagong sudah dirawat di Umbul Square puluhan tahun lalu sebelum dia bekerja di tempat itu.

"Saya tidak tahu sejarahnya. Karyawan paling tua di sini saja, yang umurnya 70 tahun. Dia sudah 60 tahun di sini, ketika itu ia berusia sekitar sepuluh tahun, mengatakan buaya itu sudah ada di sini," katanya.

Dia menambahkan, sebenarnya Bagong hendak diawetkan dengan menggunakan formalin.

Namun, petugas kesulitan mencari formalin, hingga akhirnya dikubur pada Minggu (5/7/2019) kemarin.

"Saya sudah coba hubungi tiga RSUD, katanya sudah tidak ada lagi formalin. Ya sudah dikubur saja, nanti kita ambil tulangnya untuk dijadikan pajangan," ujarnya.

Penulis: Rahadian Bagus
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved