Berita Surabaya

Lewat Gerakan ini Khofifah Ajak Muslimat Doakan Indonesia Damai Pasca Pilpres

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU mengajak 7.000 jemaah Muslimat NU.

Lewat Gerakan ini Khofifah Ajak Muslimat Doakan Indonesia Damai Pasca Pilpres
SURYAOnline/Fatimatuz Zahro
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa disambut haru oleh jemaah Muslimat NU di Kabupaten Blitar (7/7/2019). 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU mengajak 7.000 jemaah Muslimat NU dari Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri, dan Kota Kediri untuk mendoakan bangsa Indonesia, Minggu (7/7/2019).

Agar kondisi bangsa Indonesia bisa kembali damai, tentram dan guyup rukun. Khususnya pasca pesta demokrasi Pemilihan Presiden 2019 yang baru saja usai. Dimana saat Pilpres lalu banyak terjadi perpecahan.

"Banyak yang merasa benar lalu menyalah-nyalahkan orang lain. Terasa sekali saat Pilpres kemarin. Suasana yang kadang merasa benar sendiri masih sering muncul. Maka saya ingin mengajak panjengan semua, hari ini jangan berhenti mendoakan bangsa dan negara kita," kata Khofifah.

Ia mengajak para jamaah Muslimat NU untuk mengamalkan ijazah Kiai Wahab Chasbullah. Membaca salawah burdah untuk menurunkan ketentraman di hati yang membaca sekaligus dibaca untuk mendoakan kondisi bangsa Indonesi.

"Caranya mendoakan juga adalah one day one juz. Kalau tidak bisa sehari satu juzz ya coba seminggu satu juz. Ini harus dikuatkan," kata Khofifah.

Dikatakan Mantan Menteri Sosial ini, jamaah Muslimat NU adalah jamaah yang luar biasa. Mereka memiliki banyak amalan rutin yang dilakukan sehari-hari.

Termasuk gerakan one day one juz ini. Gerakan ini sudah diinisiasi sejak tahun 2006 lalu. Namun dengan kondisi bangsa saat ini Khofifah merasa bahwa gerakan ini harus dikuatkan kembali.

"Muslimat NU ini jamaah yang luar biasa. Mereka juga intens melakukan kegiatan pengajian, maka saya mengajak mereka agar lebih banyak berdoa untuk kebaikan dan keselamatan hidup bermasyarakat dan berbangsa," tutur Khofifah.

Tidak hanya itu gubernur perempuan pertama Jawa Timur ini menyebutkan kondisi ini hampir sama dengan tahun 1948 lalu. Dimana elit politik bangsa Indonesia sedang dalam kondisi yang kalut.

Para elit politik, para pimpinan banyak yang merasa benar sendiri dan menyalahkan orang yang tidak berpikiran sama dengan mereka. Hal ini disadari betul oleh Presiden Soekarno.

"Maka dalam kondisi itu beliau sowan ke Kiai Wahab Chasbullah. Beliau meminta saran pada kiai. Apa yang harus dilakukan. Beliau mintanya saran ke kiai NU," cerita Khofifah.

Kiai Wahab menyarankan agar elit politik Indonesia diajak untuk silaturhami. Namun saat itu Presiden Soekarno tidak sepakat lantaran lama silaturahmi sudah sering digunakan.

Kemudian Kiai Wahab menjelaskan ke Presiden Soekarno bahwa orang yang suka menyalahkan orang lain itu dosa. Dosa itu haram. Maka yang haram harus dihalalkan.

"Maka yang haram supaya halal, maka harus ada forum halalbihalal dan silaturahmi. Tradisi ini yang akhirnya diterapkan di Indonesia setiap Syawal, karena saat itu Pak Presiden Soekarno menghadap Kiai Wahab sudah jelang lebaran. Bahkan halal bihalal ini juga sudah dilakukan di Melayu san Brunei Darussalam.

Menurutnya kondisi itu sedang mirip dengan kondisi Bangsa Indonesia saat ini. Sehingga langkah-langkah yang menjadi ijazah dari Kiai Wahab Chasbullah juga harus dilaksanakan.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved