Pilwali Surabaya 2020

M Sholeh Mengaku Wakil Ketua Gerindra, Begini Respons DPD Gerindra Jatim

Partai Gerindra membantah bahwa M Sholeh, bakal calon Walikota Surabaya dari jalur independen, merupakan kader internalnya.

M Sholeh Mengaku Wakil Ketua Gerindra, Begini Respons DPD Gerindra Jatim
surya/miftah faridl
Sholeh menunjukkan bukti laporan dari Panwaskab Sidoarjo, Selasa (4/8/2015). 

SURYA.co.id | SURABAYA – Partai Gerindra membantah bahwa M Sholeh, bakal calon Walikota Surabaya dari jalur independen, merupakan kader internalnya.

Gerindra menegaskan bahwa Sholeh tak lagi menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerindra Jatim sejak tiga tahun silam.

”Terkait pemberitaan yang menyebut M Sholeh, advokat di Surabaya dan mantan aktivis 98 sebagai Wakil Ketua DPD Gerindra Jawa Timur, maka kami perlu meluruskan. Bahwa yang bersangkutan sejak 2016 yang lalu sudah tidak menjabat lagi sebagai wakil ketua DPD Gerindra Jawa Timur,” kata Wakil Ketua DPD Gerindra Jatim bidang Komunikasi, Hendro Tri Subiantoro kepadaSurya.co.id, Minggu (6/7/2019).

Wakil Ketua DPD Gerindra Jatim Bidang Hukum, Abdul Malik menambahkan bahwa Sholeh diberhentikan pada tahun tersebut karena mendapat sanksi dari partai.

”Sebenarnya, Sholeh sebelumnya merupakan kader Gerindra, namun diberhentika,” katanya.

”Sholeh yang berprofesi sebagai pengacara saat itu menggugat caleg dari partai Gerindra di pemilu 2014, artinya saat itu sudah melawan partai. Secara etika, dia tak boleh menangani perkara yang melawan partai. Sebagai anggota partai atau organisasi kepartaian seharusnya tidak menjelekkan partai,” katanya.

Di pemilu 2014 silam, Sholeh bahkan tercatat sebagai caleg Partai Gerindra untuk DPR RI dari dapil Surabaya dan Sidoarjo (Jatim 1) nomor urut 6 meskipun pada akhirnya ia gagal lolos gagal ke Senayan.

”Saat itu, Sholeh satu dapil dengan saya. Namun, setelah Sholeh kalah dan menggugat partai, dia akhirnya diberhentikan,” ungkap Malik yang juga berprofesi sebagai pengacara ini.

Pada prinsipnya, pihaknya tak mempermasalahkan pencalonan Sholeh sebagai Walikota Surabaya dari jalur perorangan/independen. Namun, pihaknya menyayangakan Sholeh membawa nama partai. ”Kami merasa dirugikan. Sebab, beliau mengaku politisi namun justru menjelekkan partai politik,” kata Malik.

Untuk diketahui, M Sholeh sebelumnya mengaku memilih mencalonkan Walikota Surabaya dari jalur independen karena tak mau jadi korban 'patgulipat' partai politik. Ia yang mendeklarasikan diri sebagai calon independen, mengaku sengaja melakukan deklarasi lebih awal kendati Pilwali Surabaya masih akan digelar tahun 2020 mendatang.

”Biasanya, partai politik kalau mau menentukan calon di menit terakhir menjelang penutupan pendaftaran. Misalnua, calonnya si A atau si B. Kalo independen tidak bisa begitu," ujarnya saat ditemui usai gelar deklarasi, Kamis (4/7/2019) di Surabaya, Jawa Timur.

 Saat deklarasi tersebut, ia juga mengaku masih tercatat sebagai Wakil Ketua DPD Gerindra Jatim. Meski demikian, Sholeh secara terang-terangan menyebut bahwa maju lewat partai politik urusannya lebih rumit. Sebab, berpotensi terjadi permainan di dalam pencalonan antar parpol dan calon kandidat.

"Biasanya, kalau sudah last minutes baru terjadi patgulipat. Di situ saya tidak mau. Misalnya, sejak awal sudah sosialisasi, bla bla, namun ternyata kalah di dalam permainan patgulipat itu. Sehingga, lebih baik calon independen. Kita tata mulai awal dukungan dari masyarakat," jelasnya.

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Iksan Fauzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved