Berita Mojokerto

Komunitas Mojopahit Lelono, Para Anak Muda Yang Peduli Dengan Sejarah

Komunitas yang lahir di Mojokerto ini memiliki kegiatan mencari situs situs peninggalan yang memiliki jejak dari kehidupan kerajaan di zaman dahulu

Komunitas Mojopahit Lelono, Para Anak Muda Yang Peduli Dengan Sejarah
SURYA.co.id/Febrianto Ramadani
Para Anggota Komunitas Mojopahit Lelono Di Depan Situs Cagar Budaya Kumitir, Mojokerto, Sabtu sore (6/7/2019) 

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Komunitas Mojopahit Lelono, sebuah komunitas pecinta sejarah dan budaya yang terbentuk pada (6/6/2016).

Komunitas yang lahir di Mojokerto ini memiliki kegiatan mencari situs situs peninggalan yang memiliki jejak dari kehidupan kerajaan di zaman dahulu.

Komunitas tersebut beranggotakan 20 orang dengan aktivitas mendokumentasikan sekaligus melakukan pendataan pada situs yang ditemukan oleh Komunitas Mojopahit Lelono.

Setelah dilakukan pendataan, anggota komunitas tersebut melaporkannya ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.

"Kegiatan kami biasanya blusukan ke Punden atau Makam Danyang Desa. Situs atau benda cagar budaya tersebut paling banyak dijumpai di tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Selain mengambil foto, kami juga mendata situs dan membersihkannya dari rumput maupun semak semak." Kata Andy,  ketua Komunitas Mojopahit Lelono, Sabtu (6/7/2019).

Pria yang kerap disapa dengan nama Tokel menambahkan, nama Komunitas Mojopahit Lelono diambil dari kata Majapahit, yakni kerajaan bercorak hindu budha terbesar yang pernah berjaya di Indonesia dan Lelono yang berarti perjalanan.

Para anggota komunitas tersebut mendapatkan informasi tentang situs cagar budaya berasal dari teman anggota komunitas, maupun arsip arsip sejarah yang menceritakan tentang suatu kerajaan dan budayanya.

"Kami biasanya dapat informasi tentang situs cagar budaya dari teman teman anggota komunitas. Kadang mencari sendiri dengan melihat buku-buku sejarah dan naskah naskah kuno yang tertulis di Kitab Negarakertagama maupun Kitab Pararaton." Kata Andy.

Untuk menjadi anggota Komunitas Mojopahit Lelono, lanjut Andy, dibutuhkan orang yang memiliki niat tulus dan benar benar mencintai peninggalan sejarah.

"Kadang ada anak ingin gabung, tapi ya gitu setelah ikut kami blusukan ke sawah-sawah, kotor-kotoran. Terus besoknya ada agenda lagi sudah gak ikut, jadi ya gitulah. Karena mencari situs-situs itu ya tempatnya gak selalu mudah dijangkau." Katanya.

Meski berbasis di Mojokerto, Jawa Timur,  Tokel tidak menutup masyarakat lain yang memiliki ketertarikan yang sama dengan cagar budaya di daerah lain. Untuk itu, Andy membuat Facebook Fanspage dengan nama MOLE (MOJOPAHIT LELONO).

"Anggota kami ada yang dari luar Mojokerto, Dari Jombang sama Pasuruan." Ujar Andy yang tinggal di Dusun Selorejo, Desa Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto.

Melalui komunitas yang dibentuknya, Andy berharap kepada semua masyarakat agar melestarikan benda cagar budaya di sekitar lingkungan kita dengan cara menjaga, merawat dan melestarikannya.

"Kami ingin mengenalkan peninggalan dan  jejak sejarah ke anak-anak zaman now yang kini sudah terpengaruh oleh zaman modern. Dengan mengenalkan situs, peninggalan kecil seperti lumpang dan lesung kayu yang biasa digunakan nenek kami dulu." Tandasnya

Salah satu anggota komunitas Mojopahit Lelono, Syahrul, mengaku mendapatkan pengetahuan terbaru tentang sejarah cagar budaya.

"Senang, bisa cari cari situs yang belum ditemukan. Selain itu bisa berbagi pengetahuan sama orang lain tentang sejarah kerajaan dan cagar budaya." Kata Syahrul yang sudah bergabung sejak dua tahun yang lalu.

Penulis: Febrianto Ramadani
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved