Dokter Kandungan Mulai Minimalkan Pengguntingan Area Vagina Saat Persalinan

Ada sejumlah kondisi yang mengharuskan pengguntingan dilakukan. Beberapa diantaranya yaitu kondisi gawat janin (fetal distress)

Dokter Kandungan Mulai Minimalkan Pengguntingan Area Vagina Saat Persalinan
SURYA.co.id/Sulvi Sofiana
Dr Hari Paraton, SpOG (K) menunjukkan letak perenium vagina pelatihan di ajang Perineal Rupture and Vaginal Surgery di RSUD dr Soetomo. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pengguntingan vagina saat proses persalinan untuk mempercepat proses mengeluarkan bayi dulu kerap dilakukan dokter kandungan. Tetapi resiko pendarahan dan robekan yang melebar mengakibatkan pengguntingan pada area vagina ini sebisa mungkin dihindari.

Dr Hari Paraton, SpOG (K) mengatakan saat ini dokter ahli kandungan diharapkan meminimalisir pengguntingan area vagina saat membantu proses persalinan.

Pengguntingan ini dilakukan di area Perineum, yaitu jaringan yang terletak antara liang vagina dengan lubang dubur.

“Panduan tingkat nasional maupun dunia, persalinan normal tidak digunting. Kalau sobek ya robek sendiri karena komplikasinya nanti beda antara robek sendiri atau digunting," ungkapnya pada Surya.co.id usai pelatihan di ajang Perineal Rupture and Vaginal Surgery di RSUD dr Soetomo.

Ia mengungkapkan, berdasarkan penelitian bagian Perenium jika robek sendiri maka tingkat kerusakan vagina tidak parah dan tergolong mudah diperbaiki.

Namun, ia menegaskan ada sejumlah kondisi yang mengharuskan pengguntingan dilakukan. Beberapa diantaranya yaitu kondisi gawat janin (fetal distress). Yaitu, saat bayi tidak mendapat cukup oksigen atau detak jantung lemah. Sehingga harus segera dikeluarkan agar terhindar dari risiko lahir dalam keadaan meninggal atau cacat.

"Melahirkan bayi besar dengan berat badan yang tinggi atau berukuran besar berisiko menimbulkan persalinan lama. Pengguntingan akan diperlukan untuk melebarkan jalan lahir pada kondisi ini,"urainya.

Selain itu, kondisi saat bayi dengan kepala lunak sehingga perlu digunakannya instrumen lain ataupun tangan dokter untuk masuk ke area vagina, sehingga vagina perlu dilebarkan.

"Kondisi perenium saat digunting juga harus diperhatikan. Harus dalam keadaan benar-benar tipis, setipis kertas. Sehingga jaringan dan otot yang digunting tidak terlalu banyak dan mengurangi pendarahan,"lanjutnya.

Setelah pengguntingan, harus dilakukan penjahitan dengan rapi dan sesuai dengan jaringan dan otot yang ada. Untuk tingkat robekan 1 hingga 3, penjahitan bisa dilakukan dokter yang menggunting. Namun, jika robekan mencapai tingkat empat, dalam artian melebar hingga anus. Maka harus dilakukan rujukan.

"Kalau dr SpOg sudah belajar banyak dalam pengguntingan dan penjahitan. Hanya saja robek tingkat empat harus dirujuk, ini robek yang hingga ke anus. Karena penjahitan ini juga mempengaruhi kualitas hidup pasien,"lanjutnya.

Untuk itu, penanganan perenium yabg digunting ini perlu terus diedukasikan pada dokter kandungan yang ada melalui workshop yang menjadi rangkaian acara Pekan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (PIT POGI) 2019.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved