Berita Trenggalek

Dian Bokir: Hidup dari Filosofi Tari

Dian Bokir: Tari juga membuat kita belajar menghargai. menghargai penampilan seniman lain, menghargai karya orang lain

Dian Bokir: Hidup dari Filosofi Tari
SURYA.co.id/Aflahul Abidin
Dian Bokir 

SURYA.co.id | TRENGGALEK - Nama Dian Bokir mendadak tenar beberapa bulan terakhir. Tepatnya, ketika pria bernama asli Dian Nova Saputra itu mengikuti audisi Asian Got Talent di Malaysia.

Video Dian Bokir yang menampilkan pertunjukan tari tradisi kontemporer dilihat mendadak viral. Video ditayangkan di stasiun televisi AXN dan diunggah di Youtube.

Kini, kesehariannya masih berkutat di dunia seni tari. Dia juga masih mondar-mandir pentas di berbagai daerah. Juga di luar negeri.

"Nanti tanggal 12 ada pentas di Thailand," kata dia, ketika ditemui Surya.co.id di Kabupaten Trenggalek, Sabtu (6/7/2019).

Dunia seni tari bisa dibilang sudah menyatu pada jati diri Dian Bokir. Filosofi tari telah meresap dalam kehidupannya sehari-hari.

"Dari tari kita bisa belajar macam-macam," ucap pria kelahiran 6 Mei 1993 itu.

Tari mengajarkannya menjadi disiplin. Memastikan diri untuk tampil selalu maksimal membuat Dian Bokir harus rutin latihan.

Jadwal latihan pun disusun ketat. Dari sini, ia selalu membiasakan diri untuk tertib dalam setiap urusan.

"Tari juga membuat kita belajar menghargai. menghargai penampilan seniman lain, menghargai karya orang lain," tuturnya.

Yang tak kalah penting, tari juga mengajarkan Dian Bokir untuk selalu rendah hati dan tak egois.

Dalam penampilan pentas kelompok, kata Dian Bokir, seorang penari tak boleh mengutamakan penampilannya sendiri.

"Ada toleransi untuk tampil sebaik mungkin juga di sana. Selain itu, masih banyak juga filosofi tari lain yang mempengaruhi hidup saya," sambungnya.

Sebelum viral karena tampil di Asian Got Talent, Dian Bokir sudah jauh lebih lama berkutat dengan dunia tari tradisi.

Ketika masih kecil, ia sering diajak orang tuanya menonton pertunjukan tradisional di desa-desa: jaranan, wayang, reog, dan lain sebagainya.

Jadi, ia memang lebih kenal dengan dunia tradisi ketimbang dunia tari. Seni tari baru ia selami ketika berkuliah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Jurusan Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik.

"Saya fokus ke tari. Pada awalnya masih kesusahan. Akhirnya, begitu masuk sana, saya belajar dari banyak seniman lain. Baik seniman yang sudah profesional maupun teman-teman sebaya," ucap Dian Bokir.

Ia semakin fokus di dunia tari setelah pada 2016 pergi ke Singapura untuk latihan dan pentas. Selama enam bulan, kemampuan tarinya ditempa di sana.

"Saat itu mau skripsi. Akhirnya lulusnya telat satu semester," selorohnya.

Kini, sudah banyak daerah dijelajahinya, mulai dari Malaysia, Singapura, Jepang hingga Inggris.

Di luar negeri, ia juga melihat seni tari bisa menjadi ladang penghasilan yang menjanjikan.

Di sana, kata dia, penari adalah sebuah pekerjaan. Sementara di Tanah Air, masih banyak orang menganggap tari sebagai hobi.

Gabungan antara kesukaan pada tradisi dan tari membuat Dian Bokir lebih fokus pada seni tari tradisi. Tapi, ia tetap berkreasi agar tari tradisi bisa diterima oleh lebih banyak kalangan dengan gaya kontemporer.

Ke depan, Dian Bokir ingin lebih mengeksplorasi tradisi-tradisi lokal untuk diangkat menjadi tema tari. Bukan hanya tradisi seni gerak, tapi juga tradisi apapun.

"Apapun kan bisa dituangkan dalam bentuk gerakan tari," ucapnya.

Ia juga bercita-cita agar tari tradisi kontemporer lebih mendunia. Salah satu caranya, dengan tampil semaksimal mungkin dalam setiap pentas. Baik di luar negeri, maupun dalam negeri.

"Dengan begitu saya harap seni tari tradisi bisa lebih dikenal, lebih populer dari sebelum-sebelumnya," pungkasnya.

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved