Berita Tulungagung

Upacara Adat Ulur-ulur di Telaga Buret Tulungagung, Warga 4 Desa Bersyukur Tak Pernah Kekurangan Air

Upacara adat ulur-ulur diadakan oleh masyarakat empat desa, yaitu Desa Sawo, Ngentrong, Gedangan dan Gamping.

Upacara Adat Ulur-ulur di Telaga Buret Tulungagung, Warga 4 Desa Bersyukur Tak Pernah Kekurangan Air
surya.co.id/david yohannes
Iring-iringan warga sebelum menggelar upacara adat ulur-ulur di Telaga Buret, Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat. 

SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Iring-iringan warga dengan pakaian adat berjalan dari SMAN 1 Campurdarat menuju ke Telaga Buret, di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Jumat (5/7/2019).

Diiringi musik gamelan Jawa, mereka memasuki altar khusus di samping makam leluhur, Mbah Jigang Joyo.

Tidak lama berselang, upacara adat ulur-ulur dimulai, dengan memandikan dua patung simbol Dewi Sri dan Joko Sedono.

Upacara adat ulur-ulur diadakan oleh masyarakat empat desa, yaitu Desa Sawo, Ngentrong, Gedangan dan Gamping.

Upacara ini bentuk ucapan syukur atas keberadaan Telaga Buret, yang telah mengairi sawah ke empat desa sejak ratusan tahun silam.

Secara luar biasa, telaga yang tidak seberapa besar ini bisa mengairi area persawahan seluas 700 hektar.

Bahkan di saat sebagain wilayah kekurangan air karena kekeringan seperti saat ini, warga empat desa ini tetap bisa menanam padi.

“Selain menjaga adat, budaya, upacara ini untuk menjaga Telaga Buret agar tetap lestari,” ujar panitia ulur-ulur, Heri Setyono.

Bukan sekedar menjaga tradisi, ulur-ulur adalah upaya menjaga kelestarian area konservasi seluas 32 hektar.

Ulur-ulur kali ini terasa istimewa, karena upacara ini diadakan pertama kali setelah Habitat Masyarakat Peduli Alam Raya (Hampar), selaku pengelola telaga Buret mendapatkan Kalpataru.

Halaman
12
Penulis: David Yohanes
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved