Berita Lamongan

Gelar Ekskavasi Tahap 3, Disparbud Lamongan & BPCB Trowulan Cari Struktur Candi Patakan Secara Utuh

Proses ekskavasi tahap ketiga situs Candi Patakan Lamongan akhirnya dilanjutkan untuk memastikan struktur candi secara utuh

Gelar Ekskavasi Tahap 3, Disparbud Lamongan & BPCB Trowulan Cari Struktur Candi Patakan Secara Utuh
istimewa
Petugas mengamati proses ekskavasi Candi Patakan Lamongan, Rabu (3/7/2019). 

SURYA.co.id l LAMONGAN - Proses ekskavasi tahap ketiga situs Candi Patakan yang berada di Dusun Montor, Desa Patakan, Kecamatan Sambeng, Lamongan akhirnya dilanjutkan. Fokus ekskavasi tahap ketiga ini untuk memastikan struktur candi secara utuh.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, Ismunawan, Kamis (4/7/2019), mengatakan mulai kemarin proses ekskavasi tahap ketiga situs Candi Patakan sudah dilanjutkan dan dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jatim. Selain itu, ekskavasi tahap ketiga ini juga untuk menampakkan bangunan utama candi dan juga bangunan pendukung candi lainnya, yang dicari utuh bentuknya.

"Sehari kemarin masih pemetaan, pengukuran dan sejenisnya," katanya.

Ditambahkan, target minimal ekskavasi akan berlangsung selama 10 hari ke depan.

Namun, target 10 tersebut dipastikan lebih sehingga menggunakan anggaran dari BPCB Trowulan Jatim.

"Tapi Pemkab Lamongan juga telah menganggarkan untuk ekskavasi tahap ketiga ini, " katanya.

Pihaknya berupaya secepatnya menuntaskan situs Candi Patakan ini sampai terbuka 100 persen.

Situs Candi Patakan diduga berasal dari zaman Airlangga itu sudah dua kali diekskavasi oleh BPCB Trowulan dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lamongan.

Diawali penemuan pada medio 2013, BPCB Trowulan kemudian melanjutkan ekskavasi kedua pada akhir 2018.

Pada ekskavasi tahap 2 telah ditemukan luas bangunan yang diperkirakan memiliki panjang sekitar 24 meter dengan lebar 16 meter.

Situs Candi Patakan yang diduga adalah bangunan suci masa Airlangga ini pada saat ekskavasi tahap 2 telah menemukan pagar barat yang bangunannya sudah mengkombinasikan antara batu kulit dengan batu putih atau batu kumbung yang memiliki panjang lebih kurang 40 cm.

Bangunan suci ini berasal dari abad 11, yaitu pada masa Airlangga dan berkaitan dengan temuan prasasti Patakan yang saat ini berada di Museum Nasional.

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved