Psikologi

Spiritual Embryo Tiap Anak Berbeda, Jangan Paksa Anak-anak Jadi Seperti Maudy Ayunda

dr Pinansia Finska Poetri yang juga seorang montessori educator menuturkan, jangan memaksa anak-anak untuk seperti Maudy Ayunda.

Spiritual Embryo Tiap Anak Berbeda, Jangan Paksa Anak-anak Jadi Seperti Maudy Ayunda
ist/instagram @maudyayunda
Maudy Ayunda, selebritis yang doyan membaca buku. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hefty's Suud

SURYA.co.id | SURABAYA - Siapa yang tidak ingin putra atau putrinya tumbuh menjadi pribadi yang gemar membaca buku?

Beberapa orangtua, tampak dapat membuat anaknya suka membaca secara mudah. Ada juga orangtua lainnya yang merasa sangat sulit membuat putra putrinya membaca buku.

dr Pinansia Finska Poetri yang juga seorang montessori educator menuturkan, jangan memaksa anak-anak untuk sperti Maudy Ayunda.

Sebab, dalam prinsip dasar dan filosofi montessori, setiap anak memiliki spiritual embryo yang berpengaruh pada kemampuan belajarnya.

"Kan di media pernah diberitakan kalau Maudy Ayunda sudah mulai belajar baca sejak tiga tahun. Terus para orangtua ingin anaknya seperti itu juga. Tapi, tiap anak-anaknya diajak belajar baca malah lari, terus orangtuanya bingung," cerita dokter yang akrab disapa Pinan itu.

Menurut Pinan, mendidik anak sendiri tidak perlu dilakukan dengan melihat bagaimana anak orang lain. Sebab, hal ini justru membuat orangtua tidak dapat melihat anaknya sendiri.

Dijelaskannya, spiritual embryo itu ibarat menanam benih. Apabila seseorang menanam mangga, maka yang akan tumbuh buah mangga.

"Nah pertanyaannya, apakah mangganya akan tumbuh subur atau engga, itu tergantung kita yang merawat kan," ujarnya.

Supaya mangga dapat tumbuh subur, lanjut Pinan, yang harus kita lakukan adalah letakkan di tempat yang terkena sinar matahari, disiram air, dan beri pupuk.

"Perumpamaan itu sama dengan manusia, dia punya potensi masing-masing, dan ini enggak bisa diganggu gugat (ibaratnya si biji manga tadi)," Pinan menjelaskan.

Bagaimana anak-anak tumbuh nanti, apakah dia akan menjadi seseorang yang mengoptimalkan potensi yang ada pada dirinya atau tidak. Itu tergantung dari lingkungannya mendukung atau enggak.

"Kita sebagai orangtua, termasuk dalam lingkungannya ini. Apakah kita mampu menjadi orangtua yang bisa
memfasilitasinya untuk berkembang optimal sesuai potensi atau tidak? Kuncinya ada di kita. Kita siapkan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangannya," tuturnya. 

Penulis: Hefty's Suud
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved