DPRD Kota Surabaya

Rombongan DPRD Surabaya Berkunjung di Finlandia, Youth Center Jadi Pusat Pengembangan Diri Anak

Sistem pendidikan di Indonesia tidak jauh beda. Hanya pola pendidikan yang diterapkan lebih mendorong anak mengeksplorasi potensi serta bakat.

foto: istimewa
KUNJUNGAN – Kegiatan rombongan DPRD Kota Surabaya di sela kunjungan di Finlandia. 

SALAH SATU  menjadi hal baru yang bisa diterapkan di Kota Surabaya adalah perubahan paradigma lembaga Karang Taruna. Di Finlandia juga ada lembaga untuk para anak muda itu, namun paradigmanya berbeda.

Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya Herlina Harsono Njoto menjelaskan, ada Youth Center di Finlanida. Ini semacam Karang Taruna. Namun keberadaannya lebih untuk mengeksplorasi skill dan kemampuan riil para anak muda di sana.

"Bukan seperti di Suranaya yang kebanyakan hanya tempat yang tidak dinamis. Papan baca dan tempat rapat. Di sana, baik untuk pemenangan olahraga, keterampilan, dan skill lain dipenuhi di Youth Center," kata Herlina.

Sebenarnya, sistem pendidikan di Indonesia tidak jauh beda. Hanya saja pola pendidikan yang diterapkan lebih mendorong anak mengeksplorasi potensi serta bakat dan minat anak sejak dini. Tidak semata-mata untuk mengejar nilai akademik (nilai ujian nasional/UN).

Dijelaskan, banyak program yang ada di Youth Center. Keberadaannya ada di kampung atau setiap RT/RW di Finlandia.

Youth Center juga bersifat serba guna, yaitu sebagai sarana pendidikan, berkumpulnya komunitas, olahraga, keterampilan, dan lain sebagainya.

Pendidikan di sana menjadi salah satu kewajiban saja untuk mencari bakat anak. Bukan dijadikan faktor utama dalam memperoleh pekerjaan. Namun, pengembangan skill dalam pendidikan itu yang bisa menjamin pekerjaan lebih baik.

Menurut Herlina, jika sistem pendidikan tersebut diterapkan di Surabaya atau kabupaten lain di Indonesia, tentu masih sangat sulit. Pasalnya, di Indonesia dalam menerapkan sistem pendidikan masih bersifat secara nasional.

"Sistem pendidikan sangat bergantung menterinya. Namun, perlahan memang sudah harus diarahkan ke kemampuan skill dan bakat minat anak," katanya.

Herlina mengungkapkan, hal terpenting dan bisa diterapkan di Indonesia adalah adanya gedung atau bangunan khusus yang bisa digunakan anak-anak atau remaja berkumpul untuk berkreasi dan mengeksplorasi kemampuan dan skillnya.

Selain itu, permasalah kompleksnya di Indonesia adalah makin membludaknya jumlah penduduk.

"Yang penting adalah, jangan ada mindset sekolah negeri, swasta, dan favorit. Saya alumni swasta. Cak Ji juga alumni sekolah swasta," kata Herlina. (fai)

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved