Polres Blitar Gratiskan Pengurusan SIM. Masih Dapat Bonus Potong Rambut Gratis Pula
Polres Blitar menggratiskan pengurusan SIM sekaligus memberi bonus potong rambut gratis. Sampai-sampai tukang pangkasnya kewalahan.
SURYA.co.id | BLITAR - Satuan Lalu Lintas Polres Blitar kembali membuat inovasi.
Setelah mengecat pos pantauan lebaran dengan dekorasi ala Avangers, kali ini mereka menggratiskan pengurusan SIM sekaligus memberi bonus potong rambut gratis.
Tentu saja, hal itu tak disia-siakan para pemohon SIM yang rela antre.
"Kami kaget, kok ada potong gratis di Polres, ya kami langsung minta potong. Kebetulan rambut saya juga panjang. Kalau bisa, tak hanya sehari, tapi ya sering-sering lah karena bisa menghilangkan kejenuhan saat mengantre," ujar Agus Sugianto (39), warga Desa Slorok, Kecamatan Doko, yang Senin (1/7) itu langsung memperpanjang masa berlaku SIM C.
Karena gratis, tukang potong yang bernama Murni, pria berusia 40 tahun itu sampai kewalahan. Namun demikian, pria asal Madura ini masih bisa melayaninya, hingga berakhir pukul 12.00 WIB. Total, yang dipotong sebanyak 57 orang.
"Meski banyak yang saya potong, namun karena saya biasa, ya nggak capek. Apalagi, ini melayani warga, yang gratis, maka membuat kami bersemangat," ujar Murni, yang biasa mangkal di Pasar Wlingi, dan sudah lama jadi langganan potong rambut para polisi.
Keberadaan tukang potong rambut itu, semula sempat membuat para pemohon SIM dikira ada aturan baru dari Polres Blitar, kalau mengurus SIM harus berambut pendek.
Seperti yang dituturkan Wagiran (46), warga Desa Popoh, Kecamatan Selopuro. Sebab, ia rambutnya panjang. Namun begitu tahu, kalau ada tukang potong rambut gratis, yang didatangkan petugas, ia juga minta rambutnya yang panjang cukup dirapikan.
"Hanya lima menit, wong cuma merapikan saja. Warga ya senang karena pulang dapat SIM gratis, juga rambut jadi rapi dan gratis pula," ujarnya.
Mengapa ujian teori dan praktek itu dijadikan atensi? Menurut Amirul, kebanyakan angka kecelakaan di jalan raya itu karena salah satunya akibat faktor kelalaian. Misalnya, mereka itu kurang bisa mengendalikan emosinya sehingga sering kali melanggar.
"Contohnya, saat didahului pengendara lainnya, ia merasa panas dan berusaha mendahului kembali. Karena tak bisa mengendalikan emosinya, akhirnya rawan menimbulkan kecelakaan bagi dirinya, dan orang lain," pungkas pria asal Madura ini.