Berita Surabaya

100 Dokter Diskusi tentang Deteksi Dini Prediabetes di Surabaya, ini Tujuannya   

Penyakit diabetes umumnya menyerang pada usia di atas 40 tahun karena faktor degeneratif atau penuaan.

100 Dokter Diskusi tentang Deteksi Dini Prediabetes di Surabaya, ini Tujuannya   
SURYAOnline/christine ayu nurchayanti
Dari kiri: Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular & Kesehatan Jiwa, Dinkes Surabaya Sufiah Rahmawati, Head of Marketing Nutrifood Susana, dan Persadia Cabang Kota Surabaya Teguh Raharjo di sela diskusi program deteksi dini prediabetes terhadap 100 dokter umum puskesmas dan poliklinik wilayah Surabaya, Minggu (30/6/2019). 

Surya.co.id | SURABAYA -  Penyakit diabetes umumnya menyerang pada usia di atas 40 tahun karena faktor degeneratif atau penuaan.

Namun, kini diabetes dapat ditemukan pada usia-usia produktif di bawah empat puluh tahun.

Bahkan, Sufiah Rahmawati SKM MKes, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesahatan Jiwa Dinas Kesehatan Kota Surabaya, menyampaikan, penyakit ini pernah ditemukan pada anak di usia lima belas tahun.

Oleh karena itu, ungkapnya, deteksi dini dan pencegahan prediabates, pencetus penyakit diabetes melitus tipe 2 atau DMT2, sangat penting dilakukan.

Sufiah juga memaparkan bahwa pada tahun 2018, menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), terjadi peningkatan prevalensi penyakit diabetes militus.

"Di Indonesia, kasusnya meningkat dari 6,9 persen pada 2013 menjadi 8,5 persen pada 2018. Di Jawa Timur meningkat dari 2,1 persen pada 2013 menjadi 2,6 persen pada 2018," Sufiah memaparkan.

Untuk mengatasi hal ini, Sufiah mengajak seluruh masyarakat melakukan gerakan pencegahan prediabetes melalui deteksi dini atau skrining faktor resiko penyakit tidak menular di Posbindu (Pos Pembinaaan Terpadu untuk Penyakit Tidak Menular).

Jumlah Posbindu di kota Surabaya, lanjutnya, sampai pada 2019 mencapai 1061.

Sementara, Dr dr Brahmana Askandar, SpOG (K)  ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menuturkan, deteksi prediabetes dapat meningkatkan kewaspadaan agar tidak berlanjut sampai ke penyakit diabetes.

"Bila sudah ada deteksi prediabetes, maka seseorang akan lebih berhati-hati. Selain itu jika dideteksi pada tahap prediabetes, maka penyembuhan akan lebih mudah," papar Brahmana Askandar

Edukasi masyarakat, kemampuan dokter yang mengikuti perkembangan, serta penunjang lain seperti laboratorium yang terus diperbarui, menurut Brahmana Askandar, menjadi tiga komponen yang berperan untuk menekan angka kejadian diabates.

Melihat data mengenai tingginya angka Penyakit Tidak Menular terutama prediabetes dan diabates, Nutrifood bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Kota Surabaya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengadakan program edukasi 'Pentingnya Deteksi Dini dan Pencegahan Prediabetes' untuk 100 dokter umum Puskesmas dan Poliklinik Surabaya, Minggu (30/6) Juni 2019 di gedung IDI Surabaya.

"Nutrifood menginisiasi program edukasi ini dengan tujuan untuk mengedukasi dan mengadvokasi berbagai pihak agar proaktif mendeteksi dini dan mencegah prediabetes atau diabates," tutur Susana, head of marketing Nutrifood.

Kegiatan ini, lanjutnya, Nutrifood berharap  membantu meningkatkan kualitas kesehatan dan hidup masyarakat.


 

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved