Siantar Top Perkuat Pasar Lokal dan Pasar Ekpor Untuk Capai Target Pertumbuhan Penjualan 20 Persen

Perusahan makanan ringan PT Siantar Top Industri Tbk membidik pertumbuhan penjualan di kisaran 20 persen sepanjang 2019.

Siantar Top Perkuat Pasar Lokal dan Pasar Ekpor Untuk Capai Target Pertumbuhan Penjualan 20 Persen
ist
ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA - Perusahan makanan ringan PT Siantar Top Industri Tbk membidik pertumbuhan penjualan di kisaran 20 persen sepanjang 2019.

Untuk mencapai target tersebut, perseroan yang memiliki pabrik di Sidoarjo ini siap melakukan perluasan pasar, baik lokal maupun ekspor.

Direktur PT Siantar Top Industri Tbk, Armin mengatakan, saat ini kontribusi pasar lokal cukup besar.

"Sekitar 90 persen. Namun potensinya masih cukup luas dengan besarnya jumlah penduduk dan wilayah Indonesia," kata Armin dalam public expose usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Surabaya, Jumat (28/6/2019).

Upaya untuk memperluas pasar lokal ini dilakukan dengan memperbanyak jaringan distribusi. Harapannya, semua daerah di Indonesia ada produk Siantar Top.

Sedangkan untuk pasar ekspor, Armin menyebutkan, pihaknya akan memperluas di area Timur Tengah dan Afrika.

Selama ini pasar ekspor Siantar berada di negara-negara Asia, seperti Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Filipina dan beberapa negara lainnya.

"Dengan perluasan pasar ekspor tersebut, kontribusi ekspor terhadap total penjualan perseroan bisa mencapai 15 persen," ungkap Armin.

Sementara itu, dalam laporannya, pada tahun 2018 lalu, produsen makanan ringan itu berhasil membukukan kenaikan laba bersih sebesar 17,95 persen secara tahunan menjadi Rp 255,20 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 216,37 miliar.

Pertumbuhan laba bersih tersebut tidak sejalan dengan pencapaian penjualan perseroan yang justru sama dengan tahun sebelumnya di mana perseroan membukukan penjualan sebesar Rp 2,83 triliun pada 2018, sama dengan tahun sebelumnya.

Penjualan ditopang oleh ekspor yang naik 20,75 persen secara tahunan menjadi Rp 271,73 miliar. Perseroan juga mencatat ada kenaikan harga jual rata-rata produk sepanjang tahun lalu.

Tahun ini, emiten berkode saham STTP itu mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 442 miliar. Sebagian besar belanja modal digunakan untuk membayar obligasi jatuh tempo sebesar Rp 300 miliar.

Belanja modal tahun ini berasal dari kas dan laba perusahaan serta pinjaman bank. Alokasi belanja modal ini meningkat 6,19 persen dibandingkan dengan belanja modal pada 2018 sebesar Rp 417 miliar.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved