Advertorial

Seminar Paliatif, Masyarakat Awam Perlu Tahu Cara Dampingi Pasien Jelang Kematian

Sayangnya, topik soal kematian acapkali ditabukan, sehingga tak banyak orang yang siap memberikan perawatan paliatif.

Seminar Paliatif, Masyarakat Awam Perlu Tahu Cara Dampingi Pasien Jelang Kematian
SURYA.co.id/Delya Octovie
Dari kiri, Urip Moertedjo, Agus Ali Fauzi dan Wiwiek Indriyani Maskoep saat konferensi pers tentang 'Seminar Awam Paliatif: Bakti Terakhir untuk yang Tercinta', Jumat (28/6/2019). Seminar akan diadakan Sabtu, 6 Juli 2019 di Gedung Pusat Diagnostik Terpadu Lt. 7 RSUD Dr. Soetomo mulai pukul 07.00 WIB 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kehilangan orang terkasih akibat penyakit ganas tentu tak diinginkan oleh siapapun.

Namun, ketika orang terdekat mendapat vonis penyakit mematikan, akan lebih baik bila pendamping memahami perawatan paliatif, yakni perawatan kepada pasien yang penyakitnya sudah tidak bereaksi terhadap pengobatan kuratif, atau tidak dapat disembuhkan secara medis.

"Maka dari itu, kami ingin mengadakan seminar paliatif untuk masyakat awam. Ini penting bagi mereka yang tengah mendampingi pasien yang berada dipenghujung hidupnya. Misalnya pasien yang kena kanker stadium akhir, itu kan bisa terapi di ruma. Nah, para pendamping di rumah perlu tahu cara-cara menemani mereka. Jadi kami berharap tidak hanya dokter, perawat maupun relawan yang memahami pasien," tutur Urip Moertedjo, dokter spesialis bedah kepala-leher RSUD Dr Soetomo, Surabaya, Jumat (28/6/2019).

Menurut Urip, pengetahuan ini penting untuk memahami cara menyiapkan good death, alias kematian yang baik untuk orang terdekat.

Sayangnya, topik soal kematian acapkali ditabukan, sehingga tak banyak orang yang siap memberikan perawatan paliatif.

Padahal, tren penyakit mematikan tiap tahunnya terus meningkat dan didominasi oleh kardiovaskular, kanker, paru-paru, diabetes hingga HIV/AIDS.

Karenanya, Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri RSUD Dr Soetomo menggelar 'Seminar Awam Paliatif: Bakti Terakhir untuk yang Tercinta', Sabtu, 6 Juli 2019 di Gedung Pusat Diagnostik Terpadu Lt. 7, mulai pukul 07.00 WIB-selesai.

"Sebagian besar pasien dengan penyakit yang sudah sangat lanjut, itu sebenarnya paling baik perawatan di rumah supaya bisa bersama dengan keluarga. Tetapi, ketika menuju akhir hayat, keluarga malah panik, padahal itu saat-saat sakaratul maut, di mana pasien butuh pendampingan supaya meninggal dengan damai," papar dr Agus Ali Fauzi, PGD Pall Med (ECU).

Supaya bisa memberi gambaran proses kematian kepada 200 peserta, nantinya dr Susi Ernawati, PGD Pall Med (ECU) akan menghadirkan dua narasumber yang sudah pernah merasakan proses tersebut.

"Mereka akan bercerita seperti apa sakitnya dan apa yang mereka butuhkan saat itu. Sehingga, harapan kami apa yang dirasakan penderita bisa memotivasi tidak hanya yang sakit, tapi juga yang sehat untuk meninggal dengan kondisi baik," ujarnya.

Tanda-tanda kematian secara fisik lalu dijelaskan oleh dr Wiwiek Indriyani Maskoep, SpDD. FINASIM, di antaranya adalah hilangnya kesadaran, napas mulai sulit, kemampuan menelan berkurang, warna kulit berubah, dan lain-lain.

Ada pula tanda-tanda psikologis yang juga dipengaruhi penyakitnya, di mana menjelang kematian ada pasien yang gelisah, namun ada juga yang tenang tapi makin lama makin tidak merespon.

"Ini akan kami kenalkan di seminar nanti, supaya keluarga dan masyarakat yang tengah menghadapi ini siap, walaupun tetap tidak mudah," tutupnya.

Penulis: Delya Octovie
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved