Alumindo Dorong Pemerintah Proteksi Pasar Produk Aluminium Foil di Dalam Negeri

PT Alumindo Light Metal Industry Tbk mendorong pemerintah untuk memberikan proteksi terhadap pasar produk aluminium foil di pasar domestik

Alumindo Dorong Pemerintah Proteksi Pasar Produk Aluminium Foil di Dalam Negeri
ist
illustrasi aluminum foil 

SURYA.co.id | SURABAYA - PT Alumindo Light Metal Industry Tbk mendorong pemerintah untuk memberikan proteksi terhadap pasar produk aluminium foil di pasar domestik. Hal ini diperlukan mengingat banyaknya produk impor sejenis yang membanjiri pasar Indonesia.

Berdasarkan penjelasan Direktur PT Alumindo Light Metal Industry Tbk, Wibowo Surya, pihaknya mengalami penurunan kinerja perseroan di kuartal pertama 2019 dibanding tahun sebelumnya. Saat ini, nilai penjualan baru mencapai Rp938,691 miliar atau lebih kecil dibanding tahun sebelumnya untuk periode yang sama (Rp954,249 miliar).

Laba kotor di periode ini pun turun. Dari yang sebelumnya Rp53,28 miliar di 2018 menjadi Rp1,85 miliar di 2019. Hal ini di antaranya disebabkan penurunan harga aluminium dunia yang sangat signifikan. Berdasarkan catatan pihaknya, harga LME telah turun 15 persen dari harga tertinggi.

Dari yang sebelumnya mencapai USD2,243/MT di kuartal keempat 2018 menjadi USD1,899/MT di kuartal pertama 2019.

"Hal ini menyebabkan laba kotor kuartal pertama menurun dibandingkan tahun sebelumnya untuk periode yang sama. Sebab, masih tingginya harga pokok penjualan yang disebabkan oleh harga bahan baku diperiode sebelumnya," kata Wibowo di Surabaya, Jumat (28/6/2019).

Hal ini ditambah dengan banyaknya serangan produk impor sejenis yang berasal dari China dengan harga yang 'tidak wajar'.

"Efek perang dagang antara Amerika Serikat dan China membawa efek ke Indonesia. Di antaranya, dengan membanjirnya produk aluminium foil di pasar domestik," jelasnya.

Namun, hingga akhir tahun pihaknya masih cukup optimis dapat meningkatkan penjualan maupun laba secara signifikan. Pihaknya mematok angka 10 persen.

Untuk mewujudkan hal ini, berbagai upaya dilakukan. Pertama, menyiapkan upaya pembelian bahan baku dengan lebih terstruktur untuk meminimalkan gap antara harga juga dan harga pokok penjualan.

Sedangkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan, perseroan melalui asosiasi Aluminium Ekstrusi, Sheet dan Foil (Apralex, SH & F) akan berkoordinasi dengan pemerintah. "Kami mengupayakan untuk mendapatkan proteksi pemerintah terhadap pasar aluminium foil dalam negeri," katanya.

"Proteksi dari pemerintah perlu di tengah banyaknya serangan dari produk China dengan harga yang tak wajar. Upaya ini masih didiskusikan antara produsen, konsumen, dan pihak lainnya," jelasnya.

Cara lain, perseroan akan mengeksplorasi kemungkinan masuknya investor untuk ikut menopang permodalan dan peningkatan efisiensi produksi dari perseroan. Serta, diversifikasi pasar dengan penekanan kepada peningkatan penjualan ke pasar domestik dan perbaikan struktur neraca.

Pada 2018 lalu, kinerja nilai penjualan perusahaan mengalami peningkatan signifikan dibandingkan 2017. Hingga akhir tahun 2018, nilai penjualan mencapai Rp4,422 triliun dengan laba kotor di angka Rp211,798 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 2017 yang baru mencatat nilai penjualan sebesar Rp3,484 triliun dan laba kotor senilai Rp133,629 miliar. 

Berkat Perang Dagang Amerika VS China, Indal Aluminium Industry Catat Rekor Positif Angka Ekspor

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved