Liputan Khusus

Youtubers Berpeluang Ikuti Seleksi Mahasiswa, Dr Yuli Candrasari MSi: Pilih Konten Video Pendidikan

Lembaga pendidikan tinggi boleh saja menggunakan Youtubers. Tetapi, harus dilihat konten dan konteksnya.

Youtubers Berpeluang Ikuti Seleksi Mahasiswa, Dr Yuli Candrasari MSi: Pilih Konten Video Pendidikan
foto: net
Dr Yuli Candrasari, Koordinator Prodi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jatim 

SETELAHH kita masuk era digital, memang media sosial sudah menjadi bagian kehidupan manusia termasuk
di Indonesia. Kalau kita lihat pengguna internet atau media sosial di Indonesia dari tahun ketahun
meningkatnya lumayan pesat. Sekarang sudah hampir 60 persen menggunakan internet dan sebagian
besar menggunakan media sosial.

Kenapa kemudian YouTube menjadi booming? Karena ada unsur audio dan visual. Orang Indonesia,
terus terang saja budaya membacanya rendah. Kalau melihat Instagram pun masih malas membaca
caption fotonya, apalagi jika kata-katanya padat.

Kalau YouTube itu tidak membutuhkan waktu untuk kosentrasi membaca tetapi, pengguna melihat
sesuatu yang bergerak. Itu yang lebih disenangi masyarakat Indonesia.

Sekarang YouTube menjadi booming ketika diakui oleh banyak pihak. Sebab YouTube dianggap menjadi
media yang cukup efektif untuk mempengaruhi atau menarik perhatian orang lain.

Dalam durasi 10 menit orang sudah tahu dan mengerti pesan yang disampaikan. Video YouTube
menampillan sesuatu yg seperti keadaan real. Para konten kreator YouTube memvideokan apa adanya
dan melaporkan apa adanya dengan ditambah kata-kata yang kekinian sesuai dengan era millenial. Itu
maka menjadi sesuatu yang lebih menarik perhatian milenial.

YouTube tidak hanya menyajikan konten-konten yang formal dan membosankan, oleh sebab itu
semakin digandrungi. Sekarang apapun bisa dibahas di YouTube mulai dari game, memasak bahkan
kehidupan keluarga kecil bisa dinikmati orang banyak.

Namun, tak semua konten video di YouTube bersifat mendidik, adapula konten video yang mengarah ke
hal negatif atau 'alay'. Maka literasi digital menjadi perlu. Literasi digital ini tidak hanya diperuntukkan
bagi penonton melainkan juga konten kreator YouTube. Sebab, mereka punya tanggung jawab moral
untuk mendidik masyarakat, sama halnya dengan media.

Saya juga khawatir pada anak anak. Pasalnya, mereka masih belum paham betul akan konten video yang
dikonsumsi, apakah itu baik atau tidak. Dalam hal ini orang tua memiliki peran untuk mendampingi sang
buah hati ketika menonton konten YouTube.

Maka para orang tua jangan pernah malu untuk berhenti belajar dunia digital. Karena saat ini kita hidup
di dunia digital. Anak-anak juga akan tumbuh di dunia digital maka orang tua harus belajar literasi
digital.

Tujuannya tentu agar dapat mengajarkan kepada anak-anaknya untuk memilih konten yang
bermanfaat. Sehingga anak bisa berpikir kritis dan rasional terhadap konten yang dia tonton.

Terkait beberapa perusahaan bekerjasama dengan YouTubers untuk berpromosi, hal itu merupakan cara
yang instan agar cepat dikenal dan tenar. Sebab Youtubers diakui dan dianggap sudah banyak penonton.

Mungkin sama halnya dengan UPN Veteran Jatim yang membuka peluang bagi Youtubers untuk masuk
di Jalur Mandiri Prestasi, pengen cepat dikenal.

Seharusnya ke depan harus dikaji apakah tidak menyalahi kaidah ilmiah untuk hal seperti itu. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, UPN bisa menggunakan para YouTubers untuk mendidik masyarakat dan memberikan pemahaman tentang dunia ilmiah. Jangan kemudian lembaga pendidikan tinggi ikutan 'alay', itu kurang pas. 

Sebenarnya, lembaga pendidikan tinggi boleh saja menggunakan Youtubers. Akan tetapi, harus dilihat
konten dan konteksnya. Sebaiknya, memilih Youtubers yang ilmiah, konten videonya membahas soal
pendidikan. (nen/don)

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved