PAN Buka Peluang Adopsi Koalisi Pilpres di Pilwali Surabaya 2020

PAN membuka kemungkinan mengadopsi koalisi di pemilihan presiden ke dalam pemilihan Walikota Surabaya pada 2020 mendatang.

PAN Buka Peluang Adopsi Koalisi Pilpres di Pilwali Surabaya 2020
surabaya.tribunnews.com/bobby constantine koloway
(dari kiri ke kanan) Sekretaris Demokrat Jatim, Renville Antonio ; Sekretaris PKS Jatim, Irwan Setiawan ; Sekretaris Gerindra Jatim, Anwar Sadad, dan Sekretaris PAN Jatim Basuki Babussalam, sebagai pengusung Prabowo-Sandi di Jawa Timur berkumpul di Surabaya pada masa kampanye pemilu 2019 lalu. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Partai Amanat Nasional (PAN) membuka kemungkinan mengadopsi koalisi di pemilihan presiden ke dalam pemilihan Walikota Surabaya pada 2020 mendatang.

Komposisi empat partai pengusung Prabowo-Sandi dinilai lebih dari cukup untuk nantinya mengusung pasangan calon di kota pahlawan.

Berdasarkan penjelasan Direktur Media Center Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN), Dhimam Abror, partainya menjadikan hasil pemilu 2019 sebagai acuan menentukan arah di pilkada.

"Saya baru mengikuti perkembangan di media. Sebenarnya, saya juga belum tahu persis arah DPW (Dewan Pimpinan Wilayah PAN Jatim). Prinsipnya, kami menjadikan perolehan pemilu legislatif sebagai salah satu acuan dalam menetapkan arah politik," kata Abror kepada Surya.co.id ketika dikonfirmasi di Surabaya, Senin (24/6/2019).

Sejauh ini, PAN memilih untuk memantapkan arah koalisi dibandingkan memilih calon kandidat. Perolehan PAN di pemilu 2019 yang menurun dibanding 2014 silam membuat partai berlambang matahari bersinar ini bersikap hati-hati.

"Di Surabaya, PAN pada 2019 mengalami penurunan dari lima menjadi tiga kursi. Sehingga, kami memilih untuk berkoalisi. Koalisi dengan siapa? Di antaranya bisa mengusung koalisi abadi (di pilpres)," katanya.

Di Pilpres, PAN berkoalisi dengan Partai Gerindra, PKS, dan Partai Demokrat. Apabila hal ini terealisasi di Surabaya, kursi keempat partai tersebut juga telah memenuhi persyaratan pencalonan pasangan (minimal 20 persen/10 kursi DPRD Surabaya).

Berdasarkan hasil pemilu 2019, PAN mendapat tiga kursi, kemudian Gerindra dengan PKS yang masing-masing mendapatkan lima kursi dan Demokrat yang meloloskan empat kursi. Praktis, jumlah kursi keempat partai mencapai 17 kursi.

Selain nostalgia dari pilpres, PAN juga memiliki pengalaman kebersamaan dengan Partai Demokrat di Pilwali Surabaya 2015 silam. Kedua partai saat itu mengusung pasangan calon Rasiyo dan Lucy Kurniasari dengan berstatus sebagai penantang.

Sayangnya, pasangan Rasiyo dan Lucy kalah dari petahana yang memimpin Surabaya hingga saat ini, Tri Rismaharini Dan Wisnu Sakti Buana. Saat itu, berdasarkan hasil rekapitulasi, pasangan Rasiyo - Lucy mendapat 13,66 persen.

Menurut Abror, dinamika di Pilwali 2020 mendatang akan berbeda dengan pilwali sebelumnya. Mengingat, tak adanya petahana di Pilwali kali ini.

Sekalipun, Wisnu yang saat ini berstatus sebagai Wakil Walikota Surabaya sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya berpeluang menjadi Kandidat Walikota. "Sekarang, kondisinya beda. Saya lihat sekarang lebih ke open turnamen dibandingkan 2015. Kemarin kan ngeri ketika melihat nama Bu Risma. Saat ini, lebih open, sekalipun ada Whisnu Sakti," katanya.

PDI dengan 15 kursi menurut hasil pemilu 2019 kemungkinan akan mencalonkan pasangan calon tanpa adanya koalisi. Seperti halnya yang dilakukan PDI Perjuangan pada Pilwali 2015 lalu. "Ini kan masih cair. Namun, tak kami pungkiri, PDI Perjuangan jauh lebih siap," katanya.

"Sehingga, saya melihatnya akan lebih dari dua pasang. Kemarin (Pilwali 2015), mungkin saja partai kurang Pede (karena ada petahana). (Di 2020) kecuali PDI Perjuangan, semua akan berkoalisi untuk mengusung calon baru," kata Abror. 

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved