Citizen Reporter

Komunitas Malang Women Writers’ Society (MWWS), Wadah Para Perempuan di Malang Diskusi Hasil Karya

Komunitas Malang Women Writers’ Society (MWWS) asyik membahas Narratives Of Victimhood (Narasi “Dizolimi”) dalam Sastra, Politik, dan Agama.

Komunitas Malang Women Writers’ Society (MWWS), Wadah Para Perempuan di Malang Diskusi Hasil Karya
foto: istimewa
Komunitas Malang Women Writers’ Society (MWWS) asyik membahas Narratives Of Victimhood (Narasi “Dizolimi”) dalam Sastra, Politik, dan Agama. 

Kafe Pustaka Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM) terus menjadi jujukan tempat diskusi paling hits dan asyik di UM. Selain terdapat diskusi rutinan setiap minggu, berbagai tema dan diskusi penuh kebaruan pun kerap dihadirkan.

Itu seperti yang terlihat pada Jumat (22/3/2019). Komunitas Malang Women Writers’ Society (MWWS) asyik membahas Narratives Of Victimhood (Narasi “Dizolimi”) dalam Sastra, Politik, dan Agama.

Komunitas yang rata-rata anggotanya adalah para penulis perempuan ini malam itu terlihat sibuk terkait karya-karya mereka.

Ada yang tengah menulis artikel, cerpen, hingga puisi. Tak hanya beberapa ada yang menuliskan karya mereka di rumah juga ketika berada di dalam forum itu para perempuan ini juga menulis karya-karya terbaru mereka.

“Seperti saya tadi menulis puisi di tempat, kemudian kami diskusikan,” ujar Firdausya Lana salah satu anggota MWWS.

Perempuan yang juga mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UM itu merasa cukup antusias, karena di dalam forum itu mereka saling diskusi dan karyanya banyak diberi masukan oleh sesama anggotanya.

Setelah selesai ditulis dan direvisi dari berbagai sisi, seperti isi dan diksinya, puisi yang dibuatnya pun lantas dibacakan di depan umum. Para pengunjung kafe bisa mendengar dan melihat penampilan mereka.

“Di sinilah kami membaca gagasan setiap masing-masing peserta diskusi,” terangnya.

Para peserta diskusi yang tidak hanya perempuan, juga memberikan masukkan dan pertanyaan setelah karya mereka dibacakan. Ada beberapa mahasiswa Universitas Brawijaya.

“Walaupun MWWS memang konsen pada kepenulisan perempuan, namun kami juga terbuka jika ada peserta laki-laki lain untuk ikut berdiskusi,” ungkap mahasiswa yang juga sebagai editor buku itu.

Menurutnya, komunitas itu cukup mampu membuatnya terbantu dalam kinerja-kinerja kuliah yang kini tengah ia tempuh di UM.

Karya sastra sangat penting untuk menunjang produktivitasnya sehingga selain diskusi, menghasilkan karya adalah program utama dalam komunitas MWWS.

“Tujuan kegiatan kami memang berkarya. Semoga ini terus kami lakukan dan karya-karya perempuan bisa terus mewarnai kesusastraan di Indonesia,” tegasnya.

Moh Fikri Zulfikar
MahasiswaPendidikan Bahasa Indonesia
Pascasarjana Universitas Negeri Malang
fikrizulfikar982@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved