Berita Surabaya

Smamda Kenalkan Teknik Batik Painting kepada Siswa Asing dalam Pertukaran Pelajar

SMA Muhammadiyah 2 Surabaya mengenalkan teknik batik painting saat siswa Lorne P12 College Victoria, Australia.

Smamda Kenalkan Teknik Batik Painting kepada Siswa Asing dalam Pertukaran Pelajar
surya.co.id/sulvi sofiana
BATIK KUAS - Siswa Asing berpraktek membatik dengan kuas pada pelatihan di SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya, Selasa (18/6/2019).  

SURYA.co.id | SURABAYA - Batik tulis menjadi salah satu budaya Indonesia yang banyak dipelajari warga asing. Sayangnya pemakaian canting kerap membuat warga asing kesulitan.

Untuk itu, SMA Muhammadiyah 2 Surabaya mengenalkan teknik batik painting saat siswa Lorne P12 College Victoria, Australia mengikuti pertukaran pelajar di sekolahnya, Selasa (18/6/2019).

Selain memakai teknik painting yaitu membatik dengan kuas, para siswa asing ini juga diajak menggunakan media kain kaos untuk dibatik.

Karah Bliss Darcey, siswa kelas 11 Lorne P12 College Victoria terlihat menggoreskan lilin memakai kuas membentuk pola tugu pahlawan dan tulisan Lorne P12 College.

Walau mengaku kesulitan menggunakan canting, tapi Karah mengaku sangat senang. Apalagi bisa menyelesaikan gambar di kaos putih yang dipegangnya.

"Sulit untuk mengikuti garis apalagi bentuk lingkaran. Prosesnya cukup rumit meskipun memakai kuas layaknya melukis. Tetapi terima kasih saya sudah diajar membatik oleh guru terbaik,"kesannya.

Kepala Smamda, Astajab mengatakan tahun ini pihak sekolah mencoba mengeksplore teknik membatik. Tidak harus memakai canting karena bisa juga pakai kuas ataupun lidi yang dibalut tissu.

"Justru lebih mudah diadaptasi anak yang baru belajar membatik, karena canting lebih sulit bagi yang baru belajar. Kali ini desainnya kami buat ilustrasi surabaya dengan gambar Tugu pahlawan. Selain itu kami coba pakai kaos bukan lembaran kain agar bisa dipakai mereka langsung,"urainya.

Selain memperkenalkan batik, 13 siswa itu akan diajak mengelilingi Surabaya. Mereka akan diperkenalkan ikon-ikon Surabaya khususnya simbol Islam yang ada.

“Akan kita ajak ke Masjid Al Akbar, Masjid Cheng Ho. Juga berbagai simbol lainnya. Kalau memperkenalkan bahasa dan tradisi, ketika mereka tinggal di rumah orang tua siswa, pasti mereka akan sendirinya bisa belajar dari mengamati dan menjalankannya,” kata Astajab.

Kerjasama dengan luar negeri seperti ini, mendapat apresiasi dari bidang pendidikan dasar dan menengah (Dikdasmen) Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.

Kepala Dikdasmen PWM, Arbai berharap semua sekolah yang berada di bawah Muhammadiyah harus bisa mencontoh sekolah yang sudah bisa melakukan kerjasama dengan sekolah di luar negeri.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved