Berita Magetan

7.000 KK Dua Kecamatan di Magetan Cari Air Sejauh 3 Kilometer, Musim Kemarau Diperkirakan Oktober  

Sebanyak 7.000 Kepala Keluarga (KK) di dua kecamatan di Kabupaten Magetan, krisis air bersih.

7.000 KK Dua Kecamatan di Magetan Cari Air Sejauh 3 Kilometer, Musim Kemarau Diperkirakan Oktober  
surya.co.id/doni prasetyo
CARI AIR -  Jaimin (65) warga Dusun Balegondo, Desa Trosono, Kecamatan Parang, terpaksa menampung air dari sumber rembesan (foto kiri) dan Ibu-ibu warga Desa Trosono, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan antre air bersih droping dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). 

SURYA.co.id | MAGETAN - Sebanyak 7.000 Kepala Keluarga (KK) di dua kecamatan di Kabupaten Magetan, krisis air bersih. Sungai dan sumber air di wilayah kedua kecamatan itu sudah mengering. Akibatnya, warga harus mencari sumber air atau sumur ke desa lain yang jaraknya mencapai tiga kilometer.

Kedua kecamatan tersebut  yaitu Kecamatan Parang ada tiga desa yang kekeringan, Desa Trosono, Sayutan dan Bungkuk. Sedang Kecamatan Karas, dua desa, yaitu Desa Karas dan Kuwon.

"Untuk Desa Trosono, Kecamatan Parang kita pasang tiga tangki air fiber berkapasitas 2000 liter di tiga titik,"kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Magetan Fery Yoga Saputra kepada Surya, Selasa (18/6/2019).

Dikatakan Fery, masing-masing desa di Kecamatan Parang akan kita kirim 13 kali per hari untuk mengisi tiga tangki fiber itu. Air sebanyak itu untuk keperluan memasak dan ternak.

"13 Kali kirim itu setiap kali kirim satu truk tangki berkapasitas 6.000 liter. Air itu hanya untuk masak dan keperluan ternak, dan belum untuk mandi dan cuci," jelas Fery.

Di Desa Trosono, Parang, tambah Fery, ada  4.000 KK, dari warga sebanyak itu, sekitar 1.400 KK kini sudah terdampak kekeringan.

"Musim kering tahun ini maju dari perkiraan misim kemarau sebelumnya. Tidak hanya menimbulkan krisis air, tapi juga rusaknya tanaman padi,"ujar Fery.

Kemarau tahun 2019 ini lebih panjang dari tahun tahun sebelumnya, dan baru memasuki musim penghujan diperkirakan sekitar bulan Oktober, ini sesuai prakiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Kami sudah terima surat pemberitahuan dadi BMKG, tentang ramalan pergantian musim dari kemarau ke musim penghujan. Disebutkan hasil ramalan BMKG musim penghujan diperkirakan akan turun bilan Oktober,"kata Fery Yogo Saputro.

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved