sambang kampung

Warga Bantaran Sungai di Pagesangan Produksi Lilin Aroma Kemangi Anti Nyamuk

Ibu-ibu di Kelurahan Pagesangan, Surabaya, memanfaatkan tanaman kemangi yang tumbuh subur untuk membuat lilin aroma pengusir nyamuk.

Warga Bantaran Sungai di Pagesangan Produksi Lilin Aroma Kemangi Anti Nyamuk
surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Ibu-ibu membuat lilin aroma dari daun kemangi untuk mengusir nyamuk. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Merintis kampung dengan pemberdayaan ekonomi warga mulai dilakukan di kampung bantaran sungai brantas, tepatnya di kawasan RT 1, RW 2 Kelurahan Pagesangan, Kecamatan Pagesangan, Surabaya. 

Berbekal keahlian yang didapat dari pelatihan dan tanaman herbal di taman toga kampung, ibu-ibu PKK mulai memproduksi lilin aroma kemangi.

Secara perlahan mereka menghapuskan stigma kampung bantaran kali yang identik dengan lingkungan kumuh menjadi lingkungan kreatif.

Iswaroh,anggota PKK mengungkapkan, taman toga yang dirintis kampungnya banyak menanam Kemangi. Sehingga bisa dimanfaatkan sebagai produk aroma terapi.

"Bikinnya gampang, apalagi kami sudah pernah pelatihan. Lihat Youtube juga,"urainya.

Secara rutin warga memanen daun Kemangi yang tumbuh subur di lingkungannya, kemudian mengeringkannya.

Daun Kemangi kering ini kemudian dihancurkan dan dicampur dengan lelehan parafin sebelum dicetak ke cangkir.

"Gampang sebenarnya, tetapi susahnya naruh sumbunya biar pas di tengah. Karena baru belajar makanya kami bikinnya baru sedikit-sedikit,"lanjutnya.

Pemasaran lilin aroma kemangi ini juga masih dimulai di kalangan warga. Ataupun sejumlah orang tua di sekolah terdekat dengan kampung. Dengan harga Rp 7.500, lilin yang nantinya akan menjadi oleh-oleh khas kampung bantaran sungai ini kini sering dipesan ibu-ibu yang memiliki anak.

"Kami tidak memasok banyak, baru mengenalkan juga kalau lilinnya bisa anti nyamuk. Kalau rumah di depannya banyak Kemangi kan jarang ada nyamuk, sama kalau pakai lilin ini nyamuknya juga pergi,"lanjutnya.

Fasilitator Lingkungan Jambangan, Risnani Puji Rahayu mengungkapkan, secara perlahan mulai mendorong warga untuk aktif dalam meningkatkan perekonomian keluarga. Khususnya ibu rumah tangga yang selama ini hanya disibukkan dengan merawat anak.

"Awalnya memang gak semudah sekarang, tetapi sering diingatkan berkali-kali. Kami juga mulai kumpul di gazebo biar dilihat ibu lain yang belum pernah gabung,"urainya.

Dengan rutin berkumpul, menurutnya ibu-ibu lain mulai tak ragu untuk bergabung dan ikut memproduksi lilin aroma terapi.

"Akhirnya mulai ada interaksi antar warga dan warga nggak malu lagi kalau ada tamu datang untuk tanya-tanya,"lanjutnya.

Iapun berharap warga akan secara rutin mengembangkan produksinya sehingga bisa menjadi oleh-oleh setiap tamu yang datang di kampungnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved