Kondisi Terkini Sutopo Purwo yang Berobat Kanker Paru-paru di China, 'Maafkan Salah dan Dosa Saya'

Kondisi Terkini Sutopo Purwo yang Berobat Kanker Paru-paru di China, 'Maafkan Salah dan Dosa Saya'

Kondisi Terkini Sutopo Purwo yang Berobat Kanker Paru-paru di China, 'Maafkan Salah dan Dosa Saya'
Tribun Jakarta/NAwir Arsyad Akbar
Kondisi Terkini Sutopo Purwo yang Berobat Kanker Paru-paru di China, 'Maafkan Salah dan Dosa Saya' 

Hampir setiap minggu diambil cairan tersebut sebanyak 1- 1,5 liter.

Hampir 2 bulan seperti itu.

Akhirnya dipasang pig tail agar bisa disedot/dipungsi di rumah.

Buat rekan-rekan penyintas kanker paru.

Kita harus ikhlas menerima semuanya.

Semua sudah ditakdirkan Allah SWT.

Kita jalani dengan ikhlas, sabar, ikhtiar dan terus berdoa.

Memohon belas kasihan kepada Allah agar disembuhkan dan diangkat penyakit yang ada tanpa meninggalkan penyakit lainnya," tulisnya.

Artikel ini telah tayang di Tribun Wow dengan judul Berobat Kanker Paru-paru ke China, Sutopo Purwo Nugroho: Mohon Doa, Maafkan Kesalahan dan Dosa Saya

Ketakutan Sutopo Purwo Nugroho Terungkap Dalam Isi Diary 24 Tahun Silam

Ketakutan Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) terungkap dalam yang ditulis 24 tahun silam. 

Dilansir dari akun Instagram @sutopopurwo, Minggu (26/5/2019), Sutopo mengatakan ia memiliki ketakutan pada 2 hal, yakni mencari universitas setelah lulus SMA dan mencari pekerjaan setelah lulus S1.

Bahkan Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, ia sudah meletakkan 32 surat lamaran kerja di berbagai perusahaan, namun sebagian besar tidak memberikan respon.

Meski begitu, Sutopo Purwo Nugroho tidak putus asa dan terus mencoba mencari pekerjaan.

Di akhir keterangannya, ia mengimbau agar generasi muda tidak mudah putus asa.

Berikut isi keterangan Sutopo Purwo dalam unggahannya.

"Ada 2 periode waktu yang menakutkan selama hidup saya yaitu mencari universitas setelah lulus SMA dan mencari pekerjaan setelah lulus S1."

"Mencari universitas negeri tidak mudah. Dihapusnya jalur PMDK atau undangan saat itu. Hanya ada satu peluang yaitu test SIPENMARU atau SBMPTN saat ini. Saya hanya mengikuti satu test itu."

"Tidak berani mendaftar swasta karena beayanya mahal saat itu. Akhirnya diterima di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta. Ini pilihan ketiga. Itu pun kesasar karena salah informasi. Pilihan pertama Kedokteran Umum UGM dan kedua Manajemen UGM."

"Akhirnya lulus S1 dengan predikat cum laude, tercepat, termuda. Menjadi mahasiswa teladan dan juara Lomba Karya Inovatif Produktif Tingkat Nasional."

Sutopo Purwo
Sutopo Purwo (Twitter Sutopo_PN)

FOTO CANTIK Anak Aura Kasih, Tumbuh Sehat Meski Saat Hamil Nyemil Beras Kayak Ayam

Tukang Sampah Temukan Motor Honda Vario di Dalam Sungai di Sidoarjo. Diduga Motor Curian

4 Fakta Pengakuan Bidan Desa yang Video Call WhatsApp (WA) dengan Pacarnya Tanpa Busana

"Lalu masuklah periode menakutkan kedua yaitu cari pekerjaan. Hampir tiap hari kirim lamaran. Total 32 surat lamaran via kantor pos. Dari 32 lamaran:
- 2 dapat panggilan lalu test dan diterima, yaitu di BPPT dan PT Sumalindo Lestari Jaya.
- 2 dapat panggilan tapi test gagal yaitu Dosen Universitas Esa Unggul dan PT Garuda Indonesia.
- 3 dapat surat balasan isinya ditolak yaitu:
1. Dosen F. Geografi UGM Yogya
2. Dosen F. Geografi UMS Solo
3. Dosen Perikanan IPB Bogor"

"25 TIDAK ADA surat balasan dan tidak direspon."

"Selama mencari pekerjaan, tidak semua perusahaan atau instansi besar yang saya lamar. Tapi perusahaan kecil bahkan konsultan pun saya lamar. Selama mencari pekerjaan itu banyak yang hanya PHP, diajak kesana kemari tapi akhirnya tidak ada kejelasan, dijanjikan dan lainnya."

"Semua ini tercatat di block note 24 tahun yang lalu. Block note pemberiat teman di UI yang saya pakai buat catatan penting dan diary." 

"Jadi bagi anak-anak muda, Jangan putus asa. Salah milih jurusan atau belum dapat pekerjaan meski sudah banyak kirim lamaran. Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk kita. Tuhan tidsk langsung mengabulkan doa kita seketika. Untuk itu sabar dan terus berikhtiar. Kita tidak tahu masa depan kita. Tapi kita harus terus belajar, tekun, semangat, sabar dan berdoa," tulis pria berusia 49 tahun ini.

Penulis: Akira Tandika Paramitaningtyas
Editor: Iksan Fauzi
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved