Berita Surabaya

Wali Kota Risma Disindir PDIP Surabaya Jelang Pilwali 2020, Ini Isi Sindirannya

Tri Rismaharini merupakan sosok yang sukses sebagai Wali Kota Surabaya selama dua periode, namun komunikasi Risma dengan PDIP tak terjalin intensif

Wali Kota Risma Disindir PDIP Surabaya Jelang Pilwali 2020, Ini Isi Sindirannya
Tribunnews.com
Walikota Surabaya Tri Rismaharini menjawab pertanyaan wartawan seusai menemui pimpinan Komisi Pemerintasan Korupsi (KPK) di Gedung Merah Putih, Jakarta, Senin (20/3/2017). Kehadiran Tri Rismaharini untuk berkonsultasi kepada KPK mengenai aset-aset Pemerintah Kota Surabaya yang hilang dan kalah di pengadilan. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

SURYA.co.id | SURABAYA - Wakil Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK) DPC PDI Perjuangan Surabaya, Sukadar mengimbau agar semua elemen PDIP menjalin komunikasi yang baik jelang pemilihan wali kota (Pilwali) Surabaya 2020.

Termasuk siapa-siapa saja calon yang berpotensi atau dimunculkan menjadi calon wali kota (Cawali) Surabaya nanti.

"Kami akan mengakomodir suara dari seluruh pengurus anak cabang (PAC) untuk kita jadikan pertimbangan dalam menentukan calon," kata Sukadar, Jumat (14/6/2019).

Sukadar enggan menanggapi potensi PDIP mengusung sosok alternatif dari luar partai seperti pada Pilwali 2010 dan 2015 dimana PDIP mengusung Tri Rismaharini.

Menurut Sukadar, walaupun Tri Rismaharini diketahui merupakan sosok yang sukses sebagai Wali Kota Surabaya selama dua periode, namun komunikasi Risma dengan PDIP tidak terjalin intensif.

"Sepuluh tahun di dalam pemerintahan Bu Risma ini, komunikasi dengan partai biasa- biasa saja. Gol terakhir memang untuk kepentingan rakyat. Tapi, disamping itu partai politik juga punya kepentingan untuk membesarkan partai," tegas Anggota DPRD Kota Surabaya ini.

Bahkan, lanjut Sukadar, selama ini komunikasi antara eksekutif dengan partai banyak yang 'putus'.

Berbeda jika kepala daerah tersebut merupakan kader internal partai, menurut Sukadar sosok tersebut tentu akan lebih tahu bagaimana visi misi partai dan arah perjuangan partai.

"Berbeda dengan Bu Risma yang bukan dari kader partai," ucap Sukadar.

Sukadar enggan disebut, sikapnya itu seolah-olah membandingkan porsi antara kepentingan rakyat dengan kepentingan partai.

Halaman
12
Editor: Fatkhul Alami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved