Pilpres 2019

Seusai Disebut Kirim Pembunuh Bayaran, Kivlan Zen Diancam Dibunuh hingga Minta Perlindungan Militer

Polemik Kivlan Zen yang disebut-sebut sebagai orang yang mengirim pembunuh kepada 4 tokoh nasional dan 1 pimpinan lembaga survei terus bergulir.

Seusai Disebut Kirim Pembunuh Bayaran, Kivlan Zen Diancam Dibunuh hingga Minta Perlindungan Militer
Kompas.Com
Seusai Disebut Kirim Pembunuh Bayaran, Kivlan Zen Diancam Dibunuh hingga Minta Perlindungan Militer 

Uang yang diberikan pun merupakan uang pribadi Kivlan Zen.

"Mengenai demo Rp 150 juta itu demo peringatan Supersemar, Pak Kivlan ini kan sangat nasionalis, supaya masyarakat masih ingat Supersemar. Diorderlah kepada Iwan, diberikan uang tanggal 7 November sebanyak Rp 150 juta di Kelapa Gading," bebernya.

Ia pun heran mengapa tersangka menyebut uang itu diberikan untuk membeli senjata.

"Tapi sekarang dia bilang itu untuk beli senjata, tapi kami tahu dari media juga, pada Oktober 2018 di situ sudah ada perencanaan untuk pembunuhan 5 tokoh nasional dan 1 pimpinan lembaga survei, padahal quick count pada waktu itu belum ada," kata dia.

"Artinya apa? Kalau 01 yang kalah pada 22 Mei ini, ada apa tidak? Kan gak ada? Karena dianggap Pak Prabowo kalah, maka dibuatlah tanggal 22 akan terjadi pembunuhan, kan rencana begitu. Kalau rencana itu musti jelas tempatnya, waktunya, siapa eksekutornya, harusnya kan sudah jelas titik-titiknya, tapi ini tidak ada," kata dia.

"Artinya yang Rp 150 juta itu bisa dipertanggung jawabkan, bukan untuk beli senjata, diberikan tanggal 7 Maret, bukan Oktober 2018," katanya.

Kemudian Arief Fadil pun mempertanyakan sumber uang tersebut.

Demonstran terlibat bentrok dengan polisi saat menggelar Aksi 22 Mei di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Aksi unjuk rasa itu dilakukan menyikapi putusan hasil rekapitulasi nasional Pemilu serentak 2019.
Demonstran terlibat bentrok dengan polisi saat menggelar Aksi 22 Mei di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Aksi unjuk rasa itu dilakukan menyikapi putusan hasil rekapitulasi nasional Pemilu serentak 2019. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

"Uang Pak Kivlan hasil dari membebaskan sandera di Philipina, Rp 5 juta dari koceknya, setelah Rp 50 juta yang dari HM, anggota dewan, Rp 50 juta itu untuk demo yang bulan 5 (Mei), rencananya, karena uang Rp 50 juta ini dibawa lari oleh Iwan, katanya untuk beli senjata, sehingga Pak Kivlan keluar lagi uang Rp 5 juta untuk panjer, dikasihkan di Masjid Pondok Indah," jelsnya.

"Betul, Masjid Pondok Indah betul, Kelapa Gading betul, ada semua kegiatannya, tapi ceritanya lain," kata dia.

"Misalnya kita semua kumpul di sini, lalu ditangkap polisi, terus kita menunjuk satu orang yang memerintahkan kita, bisa kan?," kata dia.

Halaman
1234
Editor: Iksan Fauzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved