Dari Pastor hingga Parisada Hindu, Hadiri Open House Lebaran Bupati Banyuwangi, Azwar Anas

Para tokoh lintas iman tersebut mengucapkan selamat Idul Fitri kepada Anas dan warga yang hadir di rumah pribadi Anas.

Dari Pastor hingga Parisada Hindu, Hadiri Open House Lebaran Bupati Banyuwangi, Azwar Anas
Surya | Haorrahman
Open house Lebaran yang digelar Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas di kampung halamannya (8/6/2019) 

SURYA.CO.ID, BANYUWANGI - Open house Lebaran yang digelar Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas di kampung halamannya, Desa Karangdoro, berlangsung semarak.

Selain warga yang menyemut berdatangan, di rumah kelahiran Anas yang butuh perjalanan 80 menit dari pusat kota Banyuwangi, ramai didatangi para tokoh lintas agama.

Tampak hadir para pastor dari gereja-gereja Katolik yang terhimpun dalam Dekenat Banyuwangi yang dipimpin Romo Fajar Soekarno.

Hadir pula perwakilan dari Parisada Hindu Dharma Indonesia, Badan Musyawarah Antar-Gereja (BAMAG), umat Konghucu, dan umat Buddha. 

Para tokoh lintas iman tersebut mengucapkan selamat Idul Fitri kepada Anas dan warga yang hadir di rumah pribadi Anas.

Mereka bersalaman akrab dan saling melempar canda.

“Selamat Lebaran ya Bapak dan Ibu semua. Semoga selalu sehat dan diberkahi Tuhan,” ujar Romo Fajar sambil menyalami Anas.

Keakraban tampak terjalin diiringi dengan suguhan beragam jajanan khas Banyuwangi, seperti bagiak, bolu, rengginang, pia glenmore, dan rempeyek kacang.

Anas juga melayani para tokoh lintas iman tersebut dengan mengupaskan sendiri jeruk Banyuwangi yang lantas diberikan kepada para pemuka agama.

“Saya, keluarga, dan atas nama pemerintah daerah mohon maaf untuk semua kesalahan dan kekurangan,” kata Anas kepada para pemuka agama.

Para tokoh lintas agama itu kemudian berfoto bersama dengan Bupati Anas dan istri, Ipuk Fiestiandani.

“Inilah cermin kerukunan umat beragama di Banyuwangi. Saling mengunjungi dengan kebahagiaan,” kata Romo Fajar.

Bupati Azwar Anas mengatakan, kerukunan umat beragama adalah hal strategis untuk membangun daerah.

Perbedaan yang ada tidak boleh dijadikan awal perpecahan, justru modal untuk memajukan Banyuwangi.

“Perbedaan itu rahmat, kita bisa saling menghormati. Perbedaan justru menjadi modal untuk bikin Banyuwangi lebih maju. Syaratnya, semua rukun. Kerukunan ini modal sosial yang tak terhitung nilainya,” kata Anas.

Penulis: Haorrahman
Editor: Insani Ursha Jannati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved