Berita Surabaya

Upacara Hari Lahir Pancasila, Sebagian ASN Surabaya Sudah Mudik, Ini Kata Wali Kota Risma

Turut hadir pegawai dan pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (pemkot) Surabaya, juga sejumlah pelajar dan veteran.

Upacara Hari Lahir Pancasila, Sebagian ASN Surabaya Sudah Mudik, Ini Kata Wali Kota Risma
surya.co.id/pipit maulidiya
Wali Kota Risma saat Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, Sabtu (1/6/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini memimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila, di Halaman Balai Kota Surabaya, Sabtu (1/6/2019).

Turut hadir pegawai dan pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (pemkot) Surabaya, juga sejumlah pelajar dan veteran.

Saat upacara berlangsung, Wali Kota membacakan amanat sambutan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia.

Sedikit berbeda, upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila ini menurut Risma hanya dihadiri sebagian pegawai Pemkot Surabaya, mengingat sudah masuk waktu libur Aparatur Sipil Negara (ASN) jelang lebaran Idul Fitri 1440 Hijriyah.

"Sebenarnya ini sudah libur ASN. Tapi mereka yang sudah pada mudik, diwajibkan Kementerian untuk ikut upacara di daerah masing-masing. Mereka mudik ke mana, bisa ikut upacara ke pemerintahan di daerah masing-masing," kata Risma, usai memimpin upacara.

Selain upacara, Wali Kota Risma berpesan kepada seluruh pegawai dan pejabat Pemkot, sekaligus Warga Surabaya agar mengamalkan lima sila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Wali Kota perempuan pertama di Surabaya ini meyakini, apa yang tertuang di dalam Pancasila adalah bagian yang tertuang di dalam ajaran kitab suci untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

"Misalnya sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, itu kita semua diajarkan mempunyai Tuhan. Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Nah ini nggak bisa kita ngomong hanya diri kita sendiri. Misalnya dalam ajaran agama saya, Islam, diwajibkan untuk zakat. Itu kan juga memperhatikan orang lain, kalau kita punya kelebihan maka kita harus berzakat memberikan kepada orang lain, bersedekah, artinya kita tidak bisa memikirkan diri kita sendiri," terang Risma.

Sementara sila ketiga lanjut Risma, Persatuan Indonesia menjelaskan manusia tidak bisa melakukan sesuatu seenaknya sendiri, ada batasan-batasannya dan negara yang mengatur batasan-batasan itu.

"Masing-masing kita tidak merasa diri kita paling benar atau paling berkuasa, kita tidak bisa merasa paling mulia atau lebih tinggi derajatnya dibandingkan orang lain," jelas Risma.

Halaman
12
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved