Persebaya Surabaya

Manifesto Maling Gorengan dan Pledoi ala Shakespeare

Manifesto Maling Gorengan dan Pledoi ala Shakespeare, Buah Pikiran dan Pandangan Pribadi Eko Darmoko Tentang Persebaya Surabaya dan Bonek Bonita

Manifesto Maling Gorengan dan Pledoi ala Shakespeare
surabaya.tribunnews.com/habibur rohman
Bonek dan Bonita mendukung Persebaya di Stadion GBT, Minggu (4/11/2018). 

OPINI : Buah Pikiran dan Pandangan Pribadi Eko Darmoko

Syahdan, pada awalnya yang lahir adalah makna, kemudian muncul nama yang disematkan secara strukturalisme atau serampangan. Contoh sederhananya adalah Bonek. Jauh sebelum muncul nama Bonek, telah lahir makna yang bersemayam dalam sebuah wujud—sekumpulan manusia yang keranjingan nonton bola dan mencintai Persebaya Surabaya.

Penamaan Bonek, dimungkinkan muncul berdasarkan teori seenak bacotnya kala melihat sekumpulan manusia militan yang memberikan dukungan mahaluas kepada Persebaya; baik saat main di Surabaya atau luar kota. Merujuk pada paragraf di atas, sudah jelas bahwa makna Bonek sudah ada sebelum lahir nama Bonek. Atau bila ingin sok-sokan akademis, sebagaimana saduran prosais Sony Karsono terhadap sabda filsuf Yunani, Plato, dalam manuskrip Surabaya Johnny: bahwa sejak zaman baheula, makna telah hadir lebih dulu ke dunia ketimbang teknologi kata.

Seiring perkembangan zaman, nama Bonek pun mengalami gradasi ke segala penjuru ilmu tafsir otak atik gathuk. Bonek yang semula adalah akronim dari ‘bondo nekat’ kini mengalami pembaharuan menjadi ‘bondo nekat dan kreatif’. Apa pun tafsir dalam akronim nama Bonek, toh maknanya tetap sama, yakni sekumpulan manusia yang mencintai Persebaya.

Ada dugaan penamaan Bonek muncul akibat sentimentalisme oknum yang melihatnya secara negatif. Bukankah ‘bondo nekat’ bermajas negatif? Tapi tak apalah, toh lebih baik negatif dahulu untuk menjadi positif, ketimbang sebaliknya. Dan sebagaimana majas pada umumnya dalam ilmu sastra dan lingustik, toh kandungannya tergantung dari isi kepala orang yang menafsirkannya secara bebas.

Sentimentalisme adalah aktor utama dalam penamaan Bonek sejak awal kemunculannya hingga pertumbuhannya. Dalam sentimentalisme selalu ada niat dan gagasan penghakiman. Hal ini sudah pasti dirasakan Bonek. Secara serampangan suporter Persebaya dihakimi sebagai sekumpulan manusia yang hanya bermodalkan nekat sahaja. Padahal, analogi sederhananya, tidak semua makhluk ciptaan Tuhan memiliki kesamaan absolut, termasuk manusia yang terlahir kembar. Begitu pula dengan suporter Persebaya. Singkatnya, jangan menghakimi seluruh umat atas dasar perilaku satu manusia.

Gempuran sentimentalisme terhadap Bonek terus bergulir di zaman milenial ini. Penghakiman yang berasal nun jauh di sana, menyebut Bonek sebagai Maling Gorengan. Bahkan ada yang menyebut Bonek sebagai Gembel dan nama hina lainnya. Itu sah sah saja. Toh di dunia ini tidak ada yang tidak sentimentalisme. Biarkan saja! Pasalnya, berabad-abad yang lalu, menganut tafsir otak atik gathuk, sastrawan Inggris, William Shakespeare telah mengguratkan pledoi (pembelaan) kepada Bonek dalam babad drama Romeo and Juliet.

Shakespeare bersabda: What’s in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet. Inti dari sabda ini adalah bahwa mawar seandainya diberi nama selain mawar, toh bau harumnya bakalan sama sebagaimana bau mawar. Bila diadopsi dalam penyebutan atau penamaan Bonek, toh sama saja; Bonek seandainya diberi nama selain Bonek, maknanya tetaplah sama, yakni sekumpulan manusia yang mencintai Persebaya.

Terlepas dari segala sentimentalisme dan penghakiman yang ditempelkan, Bonek adalah suporter dengan basis terbesar di Indonesia. Setidaknya, hal ini bisa dilihat dari data statistik ikhwal jumlah penonton di kompetisi Liga 1 musim 2018. Persebaya nangkring di posisi teratas dalam perolehan jumlah penonton terbanyak pada laga home. Tak hanya itu, Persebaya dengan Bonek-nya menduduki posisi lima sebagai klub dengan jumlah kehadiran suporter terbanyak laga home dalam jagat sepak bola di Benua Asia tahun 2018, berada di bawah Guangzhou Evergrande (China), Beijing Sinobo Guoan (China), Urawa Reds Diamonds (Jepang), dan Persepolis (Persia). Di kawasan Asia Tenggara, Persebaya dan Bonek menduduki peringkat pertama dalam urusan jumlah penonton.

Menanggapi fenomena ini, di akhir tahun 2018 lalu, Media dan Public Relation Manager PT Liga Indonesia Baru (LIB) Hanif Marjuni mengatakan: “Saya melihat sekarang Bonek menjadi sangat positif, artinya bisa menjadi role model (panutan) bagi suporter lain. Sekarang juga sudah mulai kreatif lagi dengan banyak koreografi dan kreativitas lain saat pertandingan home, tapi tidak melanggar regulasi.”

Demikianlah makna yang terus bergulir pada penamaan atau penyebutan yang bersemayam pada Bonek, Maling Gorengan, dan Gembel. Perlu dicatat, Bonek bukan lagi suporter terbesar di Indonesia, tapi sudah menjalar dan menghantui Benua Asia. Akhirul kata, menutup manifesto ini, perlu kiranya menyadur ucapan Friedrich Engels dan Karl Marx dalam bukunya yang dirilis tahun 1847: Ada hantu gentayangan di Asia, hantu itu bernama Bonek.

Surabaya, April 2019

Editor: Zainuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved