Berita Ekonomi Bisnis

Rekomendasi NU terkait Tembakau Alternatif Jadi Pilihan Beralih dari Tembakau Konvensional

Munas-Konbes NU pada Februari 2019 lalu merekomendasikan produk tembakau alternatif.

Rekomendasi NU terkait Tembakau Alternatif Jadi Pilihan Beralih dari Tembakau Konvensional
surya.co.id/sri handi lestari
Pengurus Forum Musyawarah Pondok Pesantren se-Jawa dan Madura (FMPP) Mohammad Halimi bersama pengurus Koalisi Indonesia Bebas Tar (Kabar) Ariyo Bimmo, sosialisasi rekomendasi NU terkait produk tembakau alternatif di Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA  - Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) pada Februari 2019 lalu, merekomendasikan produk tembakau alternatif.

Hal itu ditempuh untuk menjawab kebutuhan Masyarakat Indonesia, terutama warga NU, yang sangat akrab dengan tembakau.

Bukan karena banyak warga NU yang merokok, namun tak sedikit pula kehidupan ekonomi kaum Nahdliyin bergantung pada tembakau.

Pengurus Forum Musyawarah Pondok Pesantren se-Jawa dan Madura (FMPP) Mohammad Halimi, mengatakan kebijakan apapun yang ditempuh pemerintah terhadap persoalan tembakau akan berdampak baik langsung maupun tak langsung pada kehidupan Nahdliyin.

"Orang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih risiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi/ketergantungan,” jelas Halimi dalam seminar sosialisasi rekomendasi NU untuk tembakau alternatif di Surabaya, Minggu (26/5/2019).

Karenanya ketika ada pihak-pihak yang mengembuskan adanya tembakau alternatif yang bisa mengurangi risiko kesehatan seperti halnya rokok konvensional, Halimi mengungkapkan sangatlah mendukung.

“Jika benar-benar terbukti itu bisa mengurangi risiko, maka kita akan sangat menganjurkan untuk beralih,” ujar Halimi.

Namun, Halimi menegaskan jika masalah ini harus disertai dengan penelitian-penelitian yang benar-benar serius. Selama informasi yang diterima simpang siur. 

Ada yang mengatakan bahwa tembakau alternatif tetap berisiko terhadap kesehatan, ada yang bilang risikonya sangat rendah.

Jika nantinya, kata Halimi, ada penelitian yang bisa menyebutkan tembakau alternatif ini lebih rendah, maka secara otomatis pihaknya akan merekomendasi warga NU untuk menggunakan tembakau alternatif itu.

Halaman
12
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved