Berita Sidoarjo

Pemkab Sidoarjo Gagas Kawasan Lumpur untuk ini, Strateginya Permuda Perizinan bagi Investor

"Kawasan tersebut memiliki potensi besar menjadi pusat ekonomi, jasa, perdagangan, pergudangan, dan sebagainya," ungkap Kepala DPMPTSP) Ari Suryono.

Pemkab Sidoarjo Gagas Kawasan Lumpur untuk ini, Strateginya Permuda Perizinan bagi Investor
surya/irwan syairwan
Pengunjung memanfaatkan kawasan lumpur Lapindo sebagai obyek foto. 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Pemkab Sidoarjo berusaha membuka peluang investasi di kawasan sekitar lumpur. Daerah itu sedang dikonsep untuk kawasan wisata dan industri.

Bahkan, untuk menarik minat investor, Pemkab Sidoarjo sedang menyiapkan beberapa strategi. Khususnya kebijakan memudahkan investasi, pengurusan pajak, retribusi, dan sejumlah kemudahan lain.

"Kawasan tersebut memiliki potensi besar menjadi pusat ekonomi, jasa, perdagangan, pergudangan, dan sebagainya. Kami menjamin pengurusan izin dipercepat," ungkap Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Ari Suryono, Selasa (28/5/2019).

Ya, sebelumnya kawasan Porong dan Tanggulangin memang sudah menjadi salah satu pusat industri, perdagangan serta jasa di kota delta. Namun, bencana lumpur lapindo mengubah areal itu. Dampaknya perekonomian pun mati suri.

Sekarang, pemkab berencana membangkitkan kembali kawasan tersebut. "Kawasan itu strategis, lokasinya berdekatan dengan akses jalan tol Sidoarjo dan Pasuruan. Selain itu, tempatnya berada di jalan utama dan infrastruktur jalan sudah tersedia," paparnya.

Pusat semburan lumpur juga memiliki potensi. Menggaet wisatawan. Menurut Ari, stigma lumpur sebagai bencana harus perlahan dihilangkan. Pemaknaan itu diganti caranya memaksimalkan potensi lumpur.

Dalam hal ini, disebutnya bahwa pemkab sudah menyusun sejumlah konsep. Dari hasil kajian, areal itu dikembangkan menjadi geo wisata. Untuk mewujudkan target tersebut, pemkab bakal membuka lebar pintu investasi. Namun sebelumnya, ada sejumlah tahapan yang harus dilengkapi.

Pertama dari segi keamanan. Pemkab harus memastikan lokasi tersebut aman. Caranya pemkab menggandeng ahli untuk meneliti kondisi geologi kawasan lumpur.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Jatim Handoko Teguh Wibowo mengatakan pihaknya sudah melakukan penelitian. Yakni dengan melakukan pengamatan geologi. Teknisnya dia meneliti sembilan peta lumpur. Mulai dari peta geologi, geomorfologi, deformasi, peta satelit, serta peta bubble atau gelembung gas.

Empat peta lain yang diamati yakni peta semburan gas, sebaran lumpur, topologi, dan peta tata ruang.

Daerah ini juga disebut kawasan aman karena gelembung gas tidak lagi ditemui. Sedangkan semburan lumpur juga jauh berkurang. Awalnya dulu mencapai 150 ribu meter kubik. Saat ini turun drastis menjadi 20 ribu hingga 30 ribu meter kubik.

"Lokasi kawasan yang dikembangkan jaraknya cukup jauh dari pusat semburan. Jaraknya 1,5 km hingga 3 km. Diantaranya di desa Juwet Kenongo, Kludan, Wunut, dan Kebonagung," ungkap Handoko.

Pihaknya sudah mengusulkan pembagian areal. Zona I untuk rest area. Zona II digunakan sebagai wisata agro. Sedangkan zona III peruntukannya sebagai areal komersial. Namun, tetap diserahkan ke Pemkab Sidoarjo untuk menentukannya.

Penulis: M Taufik
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved