Berita Sumenep Madura

Alasan Warga Sumenep Pertahankan Tradisi Menyembelih Sapi Besar Dua Hari Jelang Lebaran 

Warga di wilayah kabupaten Sumenep Madura memiliki tradisi menyembelih sapi besar dua hari menjelang perayaan Idul Fitri.

Alasan Warga Sumenep Pertahankan Tradisi Menyembelih Sapi Besar Dua Hari Jelang Lebaran 
surya.co.id/ali hafidz syahbana
Daging sapi yang dijual di Pasar Anom Baru Sumenep, Madura, Kamis (23/5/2019). 

SURYA.co.id |  SUMENEP - Warga di wilayah kabupaten Sumenep Madura memiliki tradisi menyembelih sapi besar dua hari menjelang perayaan Idul Fitri.

Tradisi itu dilakukan dengan pertimbangan ekonomis daripada membeli daging ke pasar tradisional.

Namun, pemerintah mengeluarkan larangan menyembelih atau memotong sapi betina yang masih produktif.

Larangan itu disampaikan langsung Kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Sumenep Bambang Heriyanto, karena bisa memutus keberlangsungan popularitas sapi.

“Sapi betina tidak boleh disembelih, apalagi sapi betina dalam kondisi yang bunting,” kata Bambang Heriyanto, Kamis (23/5/2019).

Menurut Bambang, sesuai kebijakan dari Pemerintah Pusat yang melarang warga negara untuk menyembelih sapi betina. Tujuannya untuk menjaga pemberdayaan sapi, khususnya sapi Madura.

“Larangan ini bukan tidak ada dasar, dasarnya sudah jelas,” paparnya.

Keberlangsungan populasi sapi Madura itu, kata Bambang, harus terus dipertahankan. Sebab, sapi Madura merupakan populasi sapi terbaik di Jawa Timur.

Menurutnya, warna daging sapi Madura merah cerah, empuk, berserat halus, dan rendah lemak. Keunggulan lainnya, karkas (berat daging sapi tanpa kepala, kaki, jerowan, dan kulit) daging sapi Madura mencapai 48 persen dari berat badan sapi.

“Apabila ada yang nekat (menyembelih sapi betina) akan ada sanksi. Meskipun bukan sanksi hukum, tetapi akan ditegur,” katanya.

Diketahui, kebiasaan masyarakat Sumenep menjelang Hari Raya Idul Fitri membeli sapi yang besar. Sapi itu disembelih dua hari sebelum perayaan Idul Fitri.

Tradisi tersebut telah berjalan sejak puluhan tahun silam, dan sampai saat ini masih dilestarikan. Sebab, masyarakat beranggapan cara tersebut lebih ekonomis  dibandingkan membeli daging ke pasar tradisional atau kepada pengepul daging.

Penulis: Alfi Syahri Ramadan
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved