Pilpres 2019

Aktivis Yogyakarta Desak SENGKUNI POLITIK Dipenjara, Dia Suka Provokasi & Fitnah Pelecut Kerusuhan

Para aktivis Yogyakarta mendesak tokoh Sengkuni Politik yang ada di perpolitikan di Indonesia saat ini dijebloskan ke penjara.

Aktivis Yogyakarta Desak SENGKUNI POLITIK Dipenjara, Dia Suka Provokasi & Fitnah Pelecut Kerusuhan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Anggota Brimob bersitegang dengan massa di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Petugas kepolisian terus mendorong massa yang pendemo yang masih bertahan di Gedung Bawaslu. Aktivis Yogyakarta Desak SENGKUNI POLITIK Dipenjara, Dia Suka Provokasi & Fitnah Pelecut Kerusuhan 

SURYA.co.id | YOGYAKARTA - Para aktivis Yogyakarta mendesak tokoh Sengkuni Politik yang ada di perpolitikan di Indonesia saat ini dijebloskan ke penjara.

Para aktivis Yogyakarta lintas kalangan ini bersepakat dan menyatakan sikap untuk mengurung para tokoh antagonis perwayangan, seperti Sengkuni, Pendeto Durna, Aswatamo, Kartomarmo. 

Desakan agar Sengkuni Politik di Indonesia segera ditangkap dan dipenjara itu lantaran mereka melihat peristiwa kekerasan dan kerusuhan yang terjadi di sejumlah titik pada 21-22 Mei 2019.

Mereka yang menyatakan sikap ada sebanyak 96 aktivis. Mereka berasal dari kalangan Keraton Yogyakarta, Puro Pakualaman, Akademisi, Seniman, LSM, Lawyer, Buruh.

Ada juga dari Pegiat Sosial, Pengusaha, seperti Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, Gusti Pangeran Hario Wijoyo Harimurti, Catur Benyek Kuncoro, G Djadug Ferianto, Nana Ke Justina,

Penyataan sikap para aktivis di Jogja ini disimbolkan dengan memasukkan tokoh-tokoh wayang tadi ke dalam sebuah kurungan.

Inisiator kegiatan ini, Widihasto Wasana Putra mengungkapkan beberapa tokoh pewayangan yang diambil masing-masing menandakan elit-elit politik yang memiliki sifat-sifat jahat yang membuat kegaduhan pada 21-22 Mei 2019.

Dari sifat-sifat tokoh pewayangan yang diambil, ada yang memiliki sifat suka menghasut, memprovokasi, fitnah, ngeyel, yang saat ini ada di panggung perpolitikan negeri ini.

"Sengkuni siapa silahkan di tafsirkan sendiri. Kami tidak perlu mengulang secara verbal, itu menjadi kewenangan polisi. Kalau di Kurawa ada 100 antagonis, ini perwakilan, ada yang suka hasut, fitnah , ngeyel, sosok itu ada di panggung politik."

"Untuk simbolnya kita masukan ke dalam kurungan, dimana kita memintanya aparat untuk memproses secara hukum," terangnya di Lobby Kantor DPRD DIY pada Kamis (23/5/2019).

Halaman
12
Editor: Iksan Fauzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved