Berita Surabaya

Tolak Gagal Ginjal, Gatut Jalani Cuci Darah hingga 2.000 Kali di RKZ Surabaya

Gatut merupakan pasien cuci darah yang bisa menjaga kondisi tubuhnya selalu stabil. Sehingga bisa menjalani cuci darah kondisi prima hingga ke-2.000.

Tolak Gagal Ginjal, Gatut Jalani Cuci Darah hingga 2.000 Kali di RKZ Surabaya
surya.co.id/sulvi sofiana
Gatut Presdewantoro (50) usai menjalani cuci darah ke 2.000 didampingi istrinya di Rumah Sakit Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ) Surabaya, Rabu (22/5/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Mendapat vonis gagal ginjal di usia 41 tahun merupakan hal yang sulit diterima bagi Gatut Presdewantoro (50). Pria asal Pasuruan ini tak menyangka hipertensi yang dideritanya akan membuatnya melakukan cuci darah seumur hidup.

"Awalnya hipertensi, di rumah mual dan muntah, sempat ke dokter umum dan dirawat di rumah tetapi sudah seminggu nggak sembuh-sembuh,"kenangnya, Rabu (22/5/2019).

Menurutnya tekanan darah hingga 200 sudah biasa dialaminya. Dan ia pun masih terbiasa begadang dengan kondisi darah tinggi seperti itu.

Namun, karena ia mulai merasakan mual dan muntah yang tak kunjung selesai. Ia pun menjalani pemeriksaan laboratorium dan ternyata hasil keratinnya tinggi dan dinyatakan gagal ginjal.

Saat itu juga harus cuci darah. Sejak saat itu setiap Senin, Rabu, dan Jumat ia selalu ke Rumah Sakit Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ) Surabaya untuk cuci darah.

"Masuk UGD dikasih tahu harus cuci darah ya nggak percaya, karena sejak kecil sampai usia 40 nggak pernah ke rumah sakit. Sekali sakit langsung gagal ginjal,"ujar bapak dua anak ini.

Ia pun sempat kesulitan harus menjalani cuci darah rutin seminggu tiga kali hingga mengalami nyeri pada lengan. Belum lagi ia harus menjaga pola makan dan asupan minum yang dikonsumsi tiap harinya.

"Semakin lama sudah terbiasa apa lagi pembuluh darahnya sudah di perlebar jadi nggak sakit lagi,"urai mekanik di salah satu perusahaan swasta di Pasuruan ini.

Ia pun tak menyangka telah menjalani cuci darah hingga 2.000 kali dalam 10 tahun terakhir. Meskipun kerap bolak-balik rumah sakit dan cuti kerja, ia mengaku tak pernah berpikir untuk.menjalani cangkok ginjal.

"Saya sudah pasrah, saya sakit juga akibat gaya hidup saya dulu. Makan dan istirahat nggak dijaga, jadi saya nggak mau nerima kalaupun saudara atau keluarga mendonorkan ginjalnya,"ungkap pria kelahiran Nganjuk, 7 Oktober 1968 ini.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved