Berita Surabaya

Tingkatkan Kepesertaan, BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Serikat Pekerja

BPJS Ketenagakerjaan terus agresif meningkatkan kepesertaan para pekerja di sektor formal dengan gandeng serikat pekerja

Tingkatkan Kepesertaan, BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Serikat Pekerja
surya/sri handi lestari
Seminar bertema 'Serikat Pekerja untuk Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Tenaga Kerja' yang digelar Kanwil BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Jatim untuk mendorong peningkatan kepesertaan. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Badan Pengelola Jaminan Sosial atau BPJS Ketenagakerjaan terus agresif meningkatkan kepesertaan para pekerja di sektor formal. Salah satunya dengan menggandeng serikat pekerja yang dilakukan secara luas untuk memberi perlindungan dan kesejahteraan pekerja.

Kepala Dinas Tenaga Tenaga Kerja Provinsi Jatim, Himawan Estu Bagijo, mendukung langkah BPJS Ketenagakerjaan, terutama dari Kanwil Jatim yang mengambil langkah ini.

"Kami mengakui bila BPJS ketenagakerjaan tidak bisa bekerja sendiri untuk meningkatkan kepatuhan kepesertaan. Tentunya dengan menggandeng Serikat Pekerja (SP) seperti ini bisa muncul format atau action plan yang terkait dengan tim pengawas yang ada di kami," jelas Himawan, disela kegiatan seminar bersama Serikat Pekerja untuk Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Tenaga Kerja" yang digelar di Surabaya, Selasa (21/5/2019).

Bagi pengawas di Disnaker Jatim, kepesertaan jaminan pekerja sangat penting untuk melihat progresnya untuk selalu mengalami peningkatan.

Hal inilah yang perlu disinergikan untuk meningkatkan kepesertaan.

Selama ini, menurut Himawan, pengawas menerima laporan dari SP atau BPJS Ketenagakerjaan melapor ke pengawas, kemudian pengawas yang melakukan tugasnya ke perusahaan-perusahaan.

"Harapannya dengan sinergi ini, BPJS Ketenagakerjaan ke pengawas, kemudian bersama-sama dengan SP, bisa melakukan pengawasan ke perusahaan, untuk mendorong kepesertaan ini," ungkap Himawan.

Saat ini masih ada perusahaan yang belum patuh mengikutsertakan pekerja mereka dalam program jaminan sosial.

Misalnya perusahaan itu memiliki 3.000 an orang pekerja, tetapi yang diikutkan hanya 100 orang.

"Ini yang namanya tidak patuh," tambahnya.

Halaman
12
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved