Aksi Mei 2019

Hoax Brimob Bermata Sipit dari China di Aksi 22 Mei 2019, Polri & Wanita yang Klaim Istri Bereaksi

Foto anggota Brimob bermata sipit saat aksi 22 Mei 2019 di kantor Banwaslu, Jakarta, Selasa (21/5/2019) menjadi sorotan viral.

Hoax Brimob Bermata Sipit dari China di Aksi 22 Mei 2019, Polri & Wanita yang Klaim Istri Bereaksi
instagram
Foto Brimob Bermata Sipit di Aksi 22 Mei 2019 Viral, Polri & Wanita yang Mengaku Istrinya Bereaksi 

Selain itu, pihaknya juga mengamankan berbagai amplop yang masih berisi uang di lokasi kejadian. 

Dijelaskan Iqbal, saat ini pihaknya masih mendalami kasus ini, termasuk memeriksa 69 orang yang diduga provokator, dan 11 orang yang diduga membakar mobil di depan Asrama Brimob

"Kami  sedang melakukan pendalaman dari orang-orang yang sudah diamankan.

Polri punya strategi dan kami profesional untuk membuktikan ada kesengajaan melakukan pelanggaran hukum atau bagaimana," tegas mantan Kapolrestabes Surabaya ini. 

Diungkapkan Iqbal, massa yang melakukan kericuhan itu adalah massa yang datang dari luar Jakarta. 

Dia menyebut, massa ini datang dari wilayah Jawa Barat, Banten dan Jawa Timur. 

Dari kericuhan yang terjadi di depan kantor Banwaslu hingga meluas di area depan Asrama Brimob itu mengakibatkan 11 unit mobil rusak, 14 mobil terbakar, satu truk dalmas serta 11 mobil umum.    

Disinggung tentang adanya pengunjukrasa yang tewas dalam kericuhan itu, Iqbal mengaku masih dalam proses pengecekan pihaknya. 

Sejumlah mobil terbakar akibat demo rusuh di Kompleks Asrama Brimob, Petamburan, Jakarta, Rabu (22/5/2019).
Sejumlah mobil terbakar akibat demo rusuh di Kompleks Asrama Brimob, Petamburan, Jakarta, Rabu (22/5/2019). (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

Tangkap Provokator

Sebelumnya polisi telah mengidentifikasi provokator di balik aksi anarkis sekelompok orang pascaaksi unjuk rasa di depan Kantor Bawaslu, Jakarta, Selasa (21/5/2019) 

Menurut polisi, aksi anarkistis itu diprovokasi dan dilakukan oleh sekelompok orang dari luar Jakarta.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal (Pol) Dedi Prasetyo mengatakan, aksi unjuk rasa menolak hasil rekapitulasi hasil Pilpres 2019 di depan Bawaslu sudah berjalan kondusif.

Aksi berjalan damai hasil koordinasi antara Kepolisian dengan para koordinator lapangan.

Massa pendemo pun bubar dengan tertib.

Namun, kata Dedi, situasi berubah ketika massa dari luar Jakarta tiba sekitar pukul 23.00 WIB.

Mereka memprovokasi massa pendemo yang hendak kembali ke rumah masing-masing.

"Kita sesalkan massa dari luar Jakarta yang masuk jam 11-an, memprovokasi kejadian," kata Dedi.

Dedi mengatakan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan para koordinator lapangan agar aksi anarkistis tidak kembali terjadi.

Diharapkan para korlap bisa mengontrol massanya dalam aksi demo hari ini.

"Kita harapkan masyarakat menahan diri, unjuk rasa yang selama ini damai tolong dipertahankan," kata Dedi.

Dedi mengingatkan, hasil analisa dari aparat keamanan, ada pihak ketiga yang ingin memanfaatkan situasi.

"Bisa jadi disusupi para pelaku teror. Ini sangat bahaya," kata Dedi.

Dedi mengatakan, Polri dan TNI juga akan terus berkoordinasi dengan para tokoh masyarakat untuk menenangkan warga.

Situasi kondusif di DKI harus dijaga. "Saya rasa masyarakat Jakarta damai, jangan terprovokasi massa yang datang dari luar Jakarta," ujar Dedi.

Polisi terus berjaga di jalan KS Tuban Jakarta memantau massa yang terus bergerak dan melakukan aksi di kawasan dekat Asrama Brmob , Rabu (22/5/2019) pagi.
Polisi terus berjaga di jalan KS Tuban Jakarta memantau massa yang terus bergerak dan melakukan aksi di kawasan dekat Asrama Brmob , Rabu (22/5/2019) pagi. (Kompas.com)

Polda Metro Dalami Provokator

Terpisah, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, kericuhan yang terjadi di depan Kantor Bawaslu pada Selasa (21/5/2019) malam disebabkan ulah provokator.

"Aksi demo kemarin sudah tertib dan bubar dengan damai, tetapi malamnya ada segelintir orang yang sengaja membuat provokasi agar membuat warga terlibat, tetapi, semua sudah bisa kita atasi," kata Argo saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (22/5/2019).

Argo mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku dan provokator yang menyebabkan kericuhan tersebut.

"Masih didalami apakah yang memprovokasi kericuhan tersebut adalah massa yang melakukan aksi unjuk rasa pada pagi hari di depan kantor Bawaslu atau bukan," ujarnya.

Sebelumnya, aksi unjuk rasa terhadap hasil Pemilu 2019 berlangsung tertib pada Selasa malam.

Sebagian besar massa sudah membubarkan diri pukul 20.00. Namun, masih masih ada massa yang menolak membubarkan diri.

Awalnya, mereka berusaha merusak pagar besi di Gedung Bawasu sekitar pukul 22.00.

Polisi pun bergerak membubarkan paksa. Massa berlarian ke arah Tanah Abang, sebagian lagi ke arah Gondangdia dan terkonsentrasi di Jalan Agus Salim.

Massa kemudian melempar batu hingga petasan ke arah polisi. Polisi akhirnya melepaskan tembakan gas air mata kepada kerumunan massa.

Editor: Musahadah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved