Berita Tulungagung

Residivis Curanmor Ditembak Tim Macan Agung Polres Tulungagung Seusai Bobol Rumah Warga

Anggota Satreskrim Polres Tulungagung membantu memapah Mohammad Hanafi (26), saat hendak masuk ke ruang penyidikan

Residivis Curanmor Ditembak Tim Macan Agung Polres Tulungagung Seusai Bobol Rumah Warga
istimewa
Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Hendro Tri Wahyono (kiri) bersama terduga pelaku pencurian (dua dari kiri) dengan pemberatan yang baru ditangkap, Mohammad Hanafi (26). 

SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Anggota Satreskrim Polres Tulungagung membantu memapah Mohammad  Hanafi (26), saat hendak masuk ke ruang penyidikan. Warga Dusun Pohgempol, Desa Padangan, Kecamatan Ngantru ini baru saja ditangkap Tim Macan Agung, tim anti bandit bentukan Polres Tulungagung.

Hanafi adalah pelaku pencurian dengan pemberatan, yang dikejar selama satu bulan terakhir.

“Sebelumnya keberadaan pelaku terus dilacak oleh Tim Macan Agung. Setelah satu bulan dia berhasil kami tangkap,” terang Kasubag Humas Polres Tulungagung, AKP Sumaji.

Hanafi ditangkap di jalan Desa Padangan, Selasa (21/5/2019) sore.

Saat akan ditangkap, Hanafi berusaha melawan dan melarikan diri.

Polisi kemudian menembak kaki kanannya untuk menghentikan pelariannya.

Hanafi sempat mendapatkan perawatan medis, sebelum dibawa ke Mapolres Tulungagung, untuk menjalani proses hukum.

Sumaji menambahkan, terakhir Hanafi beraksi pada 21 April 2019, di rumah SL (45), di Dusun Dwi Wibowo, Desa Ngujang, Kecamatan Ngantru.

Saat itu Hanafi berhasil masuk rumah dan membawa kabur sebuah ponsel Samsung J2 Pro dan uang Rp 2.500.000.

“Korban saat itu sempat melapor ke polisi. Berdasar laporan itu tim Macan Agung melakukan pelacakan,” ujar Sumaji.

Dari catatan kepolisian, Hanafi adalah residivis kasus pencurian kendaraan bermotor.

Berdasar pengakuannya, Hanafi tidak hanya beraksi di Tulungagung.

Ia sudah dua kali melakukan pencurian dengan pemberatan di wilayah Srengat, Kabupaten Blitar.

Hanafi akan dijerat pasal 363 KUH Pidana, tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman tujuh tahun penjara.

“Penyidik masih mengembangkan kasusnya, karena kemungkinan ada TKP lain yang belum diakui,” pungkas Sumaji.

Penulis: David Yohanes
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved