Berita Pasuruan

Taman Safari Prigen (TSP) Berhasil Breeding Orangutan, Nadia Lahir dari Indukan Naning dan Bebi

Nadia, nama bayi orang Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) di Taman Safari Prigen (TSP) tampak sangat manja dengan Viti Erissabella, keeper TSP.

Taman Safari Prigen (TSP) Berhasil Breeding Orangutan, Nadia Lahir dari Indukan Naning dan Bebi
surya.co.id/galih lintartika
Kedekatan bayi orangutan, Nadia dan keeper, Viti Erissabella. 

SURYA.co.id | PASURUAN  - Nadia, nama bayi orang Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) di Taman Safari Prigen (TSP) tampak sangat manja dengan Viti Erissabella, keeper TSP.

Nadia sangat akrab dengan keepernya. Bahkan, Nadia sangat merasa nyaman ketika berada di pelukan Viti. Itu terbukti saat Nadia meminta tambah jatah susu ke Viti.

"Dia satwa yang manja. Tidak bisa dikeras dan dikasar. Rasa ingin tahunya sangat besar, meski usianya masih 1 tahun 6 bulan. Kalau ingin sesuatu harus dituruti. Jadi harus bisa pintar - pintar menuruti," papar dia.

Nadia menjadi salah satu bukti keberhasilan breeding di Taman Safari Prigen. Apalagi untuk Orangutan yang sudah termasuk ke dalam zona merah, yang artinya terancam punah. Bahkan, secara global populasi orangutan mengalami penurunan secara signifikan.

Sebagai lembaga yang memfokuskan diri dalam konservasi satwa, tentu kabar kelahiran Nadia ini sangat membahagiakan. Namun, Taman Safari Prigen tak berpuas diri.

Keberhasilan ini justru akan menjadi penyemangat untuk terus melanjutkan kegiatan breeding dari berbagai jenis satwa yang terancam punah.

Nadia ini diharapkan bisa menjadi biodiversitas (keseluruhan gen, spesies dan ekosistem di suatu kawasan) Indonesia.

Dokter Hewan Taman Safari Prigen, Nanang Tejo Laksono mengatakan Nadia lahir dari indukan bernama Naning dan Bebi. Nadia melengkapi koleksi Orangutan Taman Safari Prigen sebanyak 26 ekor.

“Indukan Nadia baru melahirkan pertama kali, sehingga induk ini merasa asing dengan kehadiran bayinya atau mengalami syndrome babyblues. Sehingga bayi ditinggalkan (Neglected),” katanya.

Untuk mengatasi hal tersebut, maka tim keeper maupun dokter hewan mengadopsi (Handrear) bayi orangutan agar bisa tumbuh sehat. Nantinya, jika tumbuh besar bisa digabungkan dengan kelompoknya kembali.

“Selain perawatan terhadap Nadia, kami juga melakukan evaluasi kesehatan secara keseluruhan setiap bulan. Perhatian kami tidak terpaku pada hubungan antara keeper dan anaknya, melainkan kelangsungan dan keberlanjutan hidup bagi satwa tersebut,” tambah dia.

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved