Berita Pamekasan Madura

Cara Unik Para Pemilik Toko di Pamekasan Madura terkait Protes Keberadaan Pasar Tumpah

Keberadaan gundukan tanah urukan, yang diduga ditaruh oleh pemilik toko di pinggir jalan protocol, di Jl Kabupaten Pamekasan, Madura.

Cara Unik Para Pemilik Toko di Pamekasan Madura terkait Protes Keberadaan Pasar Tumpah
surya.co.id/muchsin
Pedagang pasar tumpa menggelar dagangan di antara gundukan tanah, Senin (20/5/2019). 

SURYA.co.id | PAMEKASAN – Keberadaan gundukan tanah urukan, yang diduga ditaruh oleh pemilik toko di pinggir jalan protocol, di Jl Kabupaten Pamekasan, Madura menimbulkan tanda tanya masyarakat, khususnya pengguna jalan raya.

Gundukan tanah tersebut disinyalir sengaja dilakukan karena para pemilik toko di lokasi itu merasa terganggu atas kehadiran pasar tumpah tersebut, terutama terkait limbah bekas ikan yang dibuang sembarangan.

Keberadaan dua gundukan tanah setinggi dada orang dewasa itu dinilai tidak pantas dibiarkan begitu saja. Selain bisa mengganggu arus lalulintas, juga membuat pemandangan tidak elok. Karena satu gundukan berlumut dan tumbuh rumput.

Apalagi kondisi ini diperparah dengan berjejalnya PKL di sepanjang jalan itu dan ramainya pengunjung, terutama sejak pukul 14.00 hingga menjelang magrib, membuat kendaraan bermotor yang melintas di lokasi itu macet dan semrawut.

Seperti yang diungkapkan, Herman (30), warga Kelurahan Barurambat Kota, Pamekasan. Ia merasa heran kenapa tanah urukan itu tidak diangkut malah dibiarkan di pinggir jalan seperti ini. Malah, semula gundukan itu hanya satu, tapi sejak seminggu lalu, muncul lagi tumpukan tanah urukan baru.

“Lokasi ini jalan protocol, jalan menuju ke pendopo kabupaten. Setiap saya lewat lokasi ini semrawut. Banyak pengunjung pasar tumpah dan parkir sepeda motor di pinggir jalan. Bahkan dengan adanya gundukan itu, membaut pemandangan tidak nyaman,” kata Herman, Senin (20/5/2019).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pamekasan, Amin Jabir, yang dimintai konfirmasinya mengatakan gundukan itu bukan milik pemkab, tapi milik warga sekitar pemilik toko di pinggir jalan di kawasan itu.

Pihaknya sudah mendatangi warga yang menaruh gundukan, namun agar dipindah, tapi sampai sekarang masih ada.

Diakui, jika keberadaan gundukan tanah urukan itu sebagai bentuk protes kepada pemda, agar mengatasi munculnya sejumlah PKL yang kini lokasi itu menjadi pasar. Karena dampak pasar, bukan hanya menjadi kotor, tapi bau menyengat dari air ikan yang dibuang di lokasi itu.

“Sebenarnya beberapa bulan lalu, kami sudah melapor ke Pak Sekda (waktu itu masih Plt Sekda, Mohammad Alwi) dan koordinasi dengan Satpol PP untuk mengatasi tanah gundukan dan pasar tumpah di pinggir jalan,” kata Amin Jabir.

Menurut Jabir, pada 2018 lalu, ketika terdapat tim pemantauan tim Adipura hendak datang ke Pamekasan, pihaknya sudah menemui pemilik gundukan, agar gundukan diangkat dan dibersihkan.

Waktu itu, pemilik toko bersedia dengan syarat, setelah penilaian Adipura, meminta tanah gundukan dikembalikan lagi.

Ditanya langkah selanjutnya Amin Jabir belum bisa memastikan. Apa yang akan dilakukan. Sebab pihaknya tidak berani untuk mengangkat gundukan itu. Karena pemilik toko menganggap pihaknya ingkar janji tidak mengembalikan lagi tanah gundukan, sehingga pemilik toko yang menaruh kembali.

 “Kata pemilik toko, tumpukan tanah urukan di pinggir jalan akan dibersihkan sendiri, asal keberadaan pasar tumpah di depan tokonya juga diselesaikan,” ungkap Amin Jabir.

Penulis: Muchsin
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved