Pilpres 2019

Amien Rais Mangkir, Giliran Ustadz Sambo Dipanggil Penyidik sebagai Saksi Kasus Makar

Politikus gaek Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais mangkir dari panggilan pemeriksaan oleh penyidik Polda Metro Jaya, Senin (20/5/2019).

Amien Rais Mangkir, Giliran Ustadz Sambo Dipanggil Penyidik sebagai Saksi Kasus Makar
Tribunnews.com
Amien Rais Mangkir dari Pemeriksaan, Giliran Ustadz Sambo Dipanggil sebagai Saksi Kasus Makar 

SURYA.co.id | JAKARTA - Politikus gaek Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais mangkir dari panggilan pemeriksaan oleh penyidik Polda Metro Jaya, harusnya dilakukan Senin (20/5/2019) pukul 10.00 WIB.

Amien Rais harusnya dipanggil dan diperiksa untuk menjadi saksi kasus dugaan makar yang dilakukan oleh Eggi Sudjana yang menyatakan people power beberapa waktu lalu.

Ada beberapa tokoh yang dipanggil polisi untuk menjadi saksi dalam kasus dugaan makar Eggi Sudjana. Di antaranya, Kivlan Zen, Amien Rais, dan terakhir adalah Ustadz Sambo.

"Beliau ( Amien Rais) tidak bisa hadir karena ada acara lain," kata anggota Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Drajad Wibowo, saat dikonfirmasi Kompas.com (grup SURYA.co.id).

Kendati demikian, Drajad enggan menyebut jenis kegiatan yang dihadiri Amien Rais yang juga menjadi anggota Dewan Pembina Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ini.

Sebelumnya, penyidik telah meminta keterangan mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) Mayjen (Purn) Kivlan Zen sebagai saksi pada Kamis (16/5/2019).

Kala itu, Kivlan dicecar pertanyaan terkait video yang menampilkan Eggi Sudjana saat menyuarakan people power.

Status Amien Rais Bisa Jadi Tersangka Makar Seusai Pemeriksaan, Ini Penjelasan Polda Metro Jaya

Eggi resmi ditahan selama 20 hari ke depan sejak 14 Mei.

Keputusan penahanan itu dikeluarkan setelah Eggi menjalani pemeriksaan lebih dari 30 jam sejak 13 Mei pukul 16.30.

Adapun Eggi ditetapkan sebagai tersangka makar terkait seruan people power.

Polisi memiliki bukti permulaan yang cukup untuk menaikkan status Eggi dari saksi menjadi tersangka.

Hal itu didapatkan setelah pemeriksaan saksi-saksi hingga barang bukti. Eggi dijerat Pasal 107 KUHP dan/atau Pasal 110 KUHP jo Pasal 87 KUHP dan/atau Pasal 14 Ayat 1 dan Ayat 2 dan/atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Panggil Ustadz Sambo

Sementara itu, penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya mengagendakan pemanggilan Ustadz Ansufri Idrus Sambo atau Ustadz Sambo sebagai saksi kasus makar dengan tersangka Eggi Sudjana pada Rabu (22/5/2019).

"Iya dipanggil untuk dilakukan pemeriksaan sebagai saksi," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Senin.

Argo mengatakan, pihaknya belum menerima konfirmasi kehadiran pihak Ustaz Sambo.

"Nanti dilihat saja, datang atau tidak," ungkap Argo.

Bisa berubah jadi tersangka

Juru bicara Polda Metrro Jaya, Kombes Argo Yuwono menyebut status Amien Rais bisa saja berubah setelah menjalani pemeriksaan sebagai saksi kasus dugaan makar.

Hari ini, Polda Metro Jaya menjadwalkan pemanggilan kepada Amien Rais sebagai saksi untuk kasus dugaan makar yang menjerat politikus Partai Amanat Nasional (PAN), Eggi Sudjana.

Kemungkinan itu tentu berdasar dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Subdit Kamneg Ditreskrimsus Polda Metro Jaya pada Amien Rais.

Seperti dikutip SURYA.co.id dari Warta Kota dalam artikel berjudul 'Hari Ini Polda Metro Jaya Periksa Amien Rais, Status Saksi Bisa Berubah Menjadi Tersangka', Kombes Argo Ywono memberikan tanggapan mengenai kemungkinan status Amien Rais yang bisa berubah.

"Semua kemungkinan bisa terjadi," jawab Argo Yuwono.

Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais, dijadwalkan akan diperiksa oleh Polda Metro Jaya, Senin (20/5/2019) pada pukul 10.00 WIB.

Pemeriksaan Amien Rais oleh Polda Metro Jaya itu terkait kasus dugaan makar yang dilakukan oleh Eggi Sudjana.

Eggi Sudjana ditahan sejak Selasa (14/5/2019) lalu. Dia masuk Rumah Tahanan Polda Metro Jaya sekira pukul 23.00 WIB, dan akan ditahan sampai 20 hari ke depan.

Penahanan dilakukan setelah penyidik menetapkan Eggi Sudjana sebagai tersangka.

Penetapan itu dilakukan setelah proses gelar perkara pada 7 Mei 2019, dengan kecukupan alat bukti seperti enam keterangan saksi, empat keterangan ahli, beberapa dokumen, petunjuk, dan kesesuaian alat bukti.

Eggi Sudjana dilaporkan oleh caleg PDIP S Dewi Ambarawati alias Dewi Tanjung, ke Polda Metro Jaya atas tuduhan makar.

Dewi melaporkan Eggi Sudjana, berkaitan dengan beredarnya video ketika Eggi Sudjana menyerukan people power dalam sebuah orasi.

Atas pernyataan itu, Eggi Sudjana juga dilaporkan oleh Supriyanto, yang mengaku sebagai relawan dari Jokowi-Maruf Amin Center (Pro Jomac) ke Bareskrim Polri, Jumat (19/4/2019).

Laporan Supriyanto terdaftar dengan nomor LP/B/0391/IV/2019/BARESKRIM tertanggal 19 April 2019, dengan tuduhan penghasutan.

Eggi Sudjana telah mengajukan permohonan praperadilan terkait status tersangkanya ini ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Pitra Romadoni Nasution, kuasa hukum Eggi Sudjana, mengungkapkan kliennya ditangkap oleh penyidik Polda Metro Jaya setelah menjalani pemeriksaan selama 13 jam.

Eggi Sudjana menjalani pemeriksaan sejak Senin (13/5/2019) pukul 16.30 WIB.

Menurut Pitra Romadoni, ada kejanggalan atas dikeluarkannya surat penangkapan Eggi Sudjana tersebut.

"Terhadap surat penangkapan ini, sangat janggal dan aneh karena penangkapan dilakukan di ruangan penyidik. Kalau yang namanya penangkapan kan biasanya di luar daripada ruang penyidik," ujar Pitra Romadoni di Polda Metro Jaya, Selasa (14/5/2019).

Menurut Pitra Romadoni, kliennya ditahan dalam kurun waktu 1x24 jam sejak dikeluarkannya surat penangkapan tersebut.

Saat ini, Eggi Sudjana masih berada di ruangan penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.

Eggi Sudjana hanya menuliskan pesan di sebuah kertas yang menyiratkan ketidakadilan.

"Aneh makarnya tidak ada, tapi tersangkanya sudah ada dan ditangkap," bunyi keterangan pesan Eggi Sudjana Sudjana.

Sebelumnya, tersangka kasus dugaan makar Eggi Sudjana menuturkan, Presiden Jokowi bisa memerintahkan Kapolri untuk tidak menahan dirinya.

"Terkait saya, Jokowi bisa perintahkan kepada Kapolri untuk tidak menahan saya. Itu kalau dia berdemokrasi dengan baik," kata Eggi Sudjana sesaat sebelum menjalani pemeriksaan di Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Senin (13/5/2019).

"Jadi jangan pakai alasan itu tidak boleh karena intervensi. Anda jangan lupa, Anda itu pemimpin di negeri ini," ujarnya.

"Anda itu pimpinan Kapolri, TNI, dan semua angkatan perang. Semua bisa diperintah, jadi intervensi itu enggak ada. Itu adalah instruksi," sambung Eggi Sudjana.

Eggi Sudjana menuturkan, ia mau melihat sampai di mana profesionalitas polisi dalam menangani kasusnya.

"Kita minta bapak polisi objektif, karena anda sudah mengklaim profesional, modern, dan terpercaya. Jadi janganlah mengingkari jargonnya sendiri. Saya mau lihat nanti profesionalitasnya sampai di mana," tutur Eggi Sudjana.

Ia berharap, pemeriksaan atas dirinya berjalan lancar.

"Tapi kalau hari ini enggak ditahan, ya alhamdulilah. Kalau ditahan ya ini berarti kriminalisasi terjadi, artinya polisi tidak profesional, tidak modern dan tidak terpercaya," ucapnya.

Eggi Sudjana menjelaskan, dalam kasus ini sebelumnya ia sudah dimintai klarifikasi.

"Kalau minta klarifikasi, saya sudah kasih klarifikasi dan diperiksa 13 jam. Sebagai saksi tidak perlu berpendapat. Oleh karena itu klarifikasi apa lagi yang diminta? Tapi ternyata sekarang jadi tersangka," papar Eggi Sudjana.

"Kalau jadi tersangka ini serius dan kita sudah lakukan praperadilan," katanya.

Eggi Sudjana menuturkan, dirinya memutuskan memenuhi panggilan penyidik, karena selain sebagai aktivis, ia juga merupakan advokat yang memahami bahwa panggilan polisi itu tidak boleh dihindari.

"Pertimbangan saya hadir karena khususnya dalam konteks saya sebagai aktivis dan advokat, saya mengerti hukum," jelasnya.

"Maka panggilan polisi itu tidak boleh dihindari. Apa pun ceritanya harus dihadapi. Beda dengan tokoh elite lain, yang dipanggil polisi pada kabur, sehingga mobilnya nabrak dan kepalanya benjol segeda bakpao," beber Eggi Sudjana.

Amien Rais Mengganti Istilah People Power Seusai Eggi Sudjana Ditangkap

Amien Rais mengganti istilah people power yang dinilai mengganggu petahana.

Saat itu ia mengatakan bahwa apabila ada kecurangan, maka yang harus dilakukan adalah people power. Namun, kata-kata people power itu, katanya, ternyata menggangu petahana.

"Saya katakan people power saat itu, rupanya petahana dan rezimnya itu ngeri people power, kok bahasa asing? Kita ganti dengan gerakan nasional kedaulatan rakyat," tuturnya.

Sebelumnya, Amien Rais meminta pendukung 02 mengganti istilah people power dengan Gerakan Kedaulatan Rakyat.

Pernyataan Amien Rais tersebut disampaikan saat menghadiri Pemaparan Kecurangan Pemilu 2019 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Menurut Amien Rais, penggantian istilah tersebut karena selama ini ada sejumlah orang yang dijerat dengan pasal makar karena menyebut people power.

Mereka di antaranya adalah politikus PAN Eggi Sudjana, politikus Partai Gerindra Permadi, dan Mayor Purnawirawan Jenderal Kivlan Zen.

"Saya ingatkan, Eggi Sudjana ditangkap polisi karena bicara people power, tapi kita gunakan gerakan kedaulatan rakyat," ujar Amien Rais.

Pernyataan Amien Rais tersebut terlontar di pengujung acara pemaparan kecurangan yang dihadiri ratusan pendukung, relawan, dan sejumlah Jenderal purnawirawan TNI yang selama ini mendukung Prabowo-Sandi.

Menjelang azan magrib dan hendak pembacaan doa penutup acara, Amien Rais yang mengenakan baju koko putih naik ke atas panggung. Ia langsung menuju podium dan kemudian melontarkan pernyataan tersebut.

"Siapa pun yang menghalangi gerakan kedaulatan rakyat, Insyaallah kita gilas bersama-sama," cetusnya.

Amien Rais lalu memekikkan takbir, dan meneriakkan kata 'merdeka'. Setelah itu ia mempersilakan salah seorang ustaz membacakan doa penutup.

Editor: Iksan Fauzi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved