Berita Surabaya

Horestes Vicha Hadirkan Empat Karya Bertema 'Lost and Found' pada Pameran Seni di Surabaya

Artotel Surabaya kembali menggelar pameran seni. Kali ini menggandeng seniman kelahiran kota Magelang, Horestes Vicha.

Horestes Vicha Hadirkan Empat Karya Bertema 'Lost and Found' pada Pameran Seni di Surabaya
Surabaya.Tribunnews.com/Habibur Rohman
Tamu hotel bisa menikmati beberapa karya seni solo exhibition by Horestes Vicha di Atotel Surabaya, Sabtu (18/5/2019). Empat karya berjudul "Lost & Found" a room reflection ini terpajang berderet di area Lobby Hotel 

Surya.co.id | SURABAYA - Artotel Surabaya kembali menggelar pameran seni. Kali ini menggandeng seniman kelahiran kota Magelang, Horestes Vicha.

Pada kali ini, Horestes Vicha, yang lebih akrab disapa Vicha, menghadirkan empat karya seni bertema 'Lost and Found' dengan menggunakan teknik menempelkan berbagai macam bahan atau yang biasa disebut kolase.

"Tema tersebut saya pilih karena identik dengan diri saya yang seorang seniman kolase sekaligus desainer grafis. Istilah 'lost & found' berarti hilang dan ditemukan. Ini sangat berkaitan dengan pola kerja kreatif, pola artistik saya selama ini dalam membuat karya adalah mencari gambar lalu menggabungnya," tutur Vicha.

Empat karya yang dihadirkan masing-masing berjudul psychic heartbeat, the charm of passion #1, the charm of passion #2, dan humling behavior. Seni kolase ini dihadirkan menggunakan bahan printing digital acid dye print on cordura fabric dan chromogenic print on osca leather.

Seniman yang pernah mengenyam pendidikan di Modern School of Design (2015) dan Art Faculty STSRD Visi, communication of Design (2017) Yogyakarta ini ingin menunjukkan keragaman berbagai elemen yang disatukan untuk merefleksikan menyatakan sehari-hari melalui simbol dan ikon visual.

"Saya menampilkan karya seni visual yang merupakan penggambaran dari suatu relasi simbolis dalam pengalaman keseharian," jelasnya.

Melalui simbol dan ikon visual tersebut, ia berharap dapat menstimulasi atau memberi efek imajinasi atau pencerahan bagi yang melihatnya. Serta membebaskan siapa saja untuk berimajinasi dan menafsirkannya.

Simbol dan ikon visual yang dihadirkan oleh Vicha didominasi oleh barang-barang elektronik seperti tape, kamera, lampu, toa dan lain sebagainya.

"Sebenernya saya sangat bebas dalam pemilihan objek, bisa apa saja yg ada disekitar saya. Kebetulan saya sedang tertarik dengan objek artistik elektronik atau mesin yang dibuat pada era lama. Saya juga menghadirkan figur manusia yang digabungkan dengan teknologi industrial," tutur Vicha.

Pemilihan warnanya pun, dirinya menuturkan, sesuai dengan ciri khasnya yaitu menggunakan warna pokok dan mencolok.

"Karya seni dilahirkan dari kebahagiaan, oleh karenanya saya menciptakan karya atas dasar kesukaan dan kebahagiaan saya sendiri," jelasnya

Vicha menuturkan karya yang ia hadirkan kali ini  ia buat pada 2018 dan 2019.

"Secara teknis tidak membutuhkan waktu yang lama. Mungkin tiga sampai empat jam. Hanya saja proses pencarian objek dan pemilihan media yang akan saya gunakan bisa memakan waktu lama. Untuk karya yg saya buat tahun 2018 itu kurang lebih satu bulan. Lalu karya yg saya buat tahun 2019 itu lanjutan dari karya seri yg pernah saya buat di tahun 2018 jadi tidak begitu lama, hanya butuh sekitar dua mingguan," tutur Vicha.

Eggy Rigata, Hotel Manager ARTOTEL Surabaya mengatakan, pihaknya ingin memberikan kesempatan bagi seniman lokal Indonesia khususnya yang tinggal di Surabaya dan sekitarnya.

"Supaya mereka dapat menyuarakan pendapat mereka tentang diri mereka sendiri, lingkungan, bahkan mungkin perhatian mereka tentang kondisi Indonesia saat ini melalui karya mereka," pungkasnya.

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti
Editor: Fatkhul Alami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved